-->

In BPN Ramadan 2023 momlyfe

Refleksi Diri dengan berbagai Peran saat ini

Alhamdulillah, hari ini tepat berusia 29th, ini berarti juga sudah hampir 6 tahun menjadi ibu, dan hampir 7 th menjadi istri.. Feel blessed and loved enough.



Selain bersyukur, sebetulnya ada perasaan agak ngeri-ngeri sedap mengingat diri ini makin dekat dengan kepala 3. Sebuah jenjang baru sebagai manusia? Apakah rasanya sama ataukah berbeda, bagaimana rupa dan tutur lakuku kelak?

Rasa penasaran itu ada, tapi anehnya setelah usia 25 terlewati, rasa khawatir itu juga tidak terlalu semenggebu dulu. Hari ini aku merasa aman dan nyaman, juga bahagia.. Meskipun pada kenyataannya tak banyak yang berubah dari diriku. Masih ibu-ibu rumahan biasa yang sedang berusaha mencoba beberapa hal. Mencoba menyibukkan diri (red: inginnya sih lebih produktif gitu yaa) dengan beberapa kegiatan yang memang kusukai.

Sebagai seorang individu khususnya sebagai perempuan, aku merasa cukup. Tidak yang waw berkemilau, tapi cukup untuk diriku sendiri. Terkadang masih muncul sih insecure dari diri. Sebagai seorang istri, aku masih perlu banyak belajar. hehe

Sepertinya aku masih sulit tunduk taat, tipikal manusia yang perlu berembuk dan bahkan berdebat dulu baru bisa bersepakat (kadang juga sepakat untuk tidak sepakat). Entah kenapa, hal ini masih sangat menantang bagiku (?)

Sebagai seorang ibu, aku merasa kadang baik kadang kurang. Namun begitulah hidup yaa kan, tidak mungkin kita selalu merasa bahagia, terkadang ada sedih yang menambah hikmah.

Seorang teman dekatku mengatakan bahwa mimpi seorang perempuan harus tetap ditumbuhkan meski ia sudah berubah status menjadi seorang istri lalu menjadi ibu. Aku setuju dengan statement tersebut. Seringkali, perempuan yang menikah seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa hidupnya sebagai seorang individu yang memiliki mimpi berhenti begitu saja. Banyak hal yang harus direlakan, disubtitusi bahkan dihilangkan sama sekali. Akupun pernah mengalami masa-masa itu. Bahkan bisa dibilang hingga kini pun, pertimbangan utamaku bukanlah diriku sendiri. Tidak mungkin tidak, mindset seperti itu dihilangkan begitu saja memang. 

Para ibu (perempuan) melabeli hal tersebut sebagai pengorbanan, sebagian lainnya menyatakan bahwa itu adalah sudah menjadi fitrahnya. Aku tidak ingin mengatakan bahwa memiliki mimpi yang ingin diwujudkan, diluar peran seorang wanita sebagai istri dan wanita adalah sebuah hal yang aneh. Aku juga tidak ingin mengatakan bahwa seorang perempuan yang menyerah dengan mimpinya adalah perempuan yang merugi. Semua itu benar-benar pilihan berat yang harus dipikirkan :)

Beberapa waktu lalu, aku mendapati statement dari mb Apik (penulis buku) yang kurang lebih memperbandingkan medan juang para perempuan dalam perannya sebagai seorang ibu. "Ibu rumah tangga, perangnya dengan rasa tak berharga" sedangkan "Ibu bekerja berperang melawan rasa bersalah." Aku tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut, sebab aku bahkan pernah mengalaminya dalam satu waktu. Merasa tidak berharga karena tidak bisa menghasilkan sesuatu yang disebut dari produktivitas (terlebih materi), juga dalam satu waktu merasa bersalah pada kurangnya perhatian dan waktu yang kuberikan pada anak dan suami karena tersibukkan dengan agenda mencari materi. Aneh yaaa... Tapi perasaan itu valid bukan? (meski dalam kondisi PMS :p)

Apapun itu, seseorang dengan berbagai peran yang sedang dijalani boleh dan berhak menentukan jalannya sendiri. Tentu atas ridlo dari suami agar jalan yang meski berat itu terasa sedang menabung pahala, meski keberhasilan belum tentu diraih.

Begitupun denganku, terima kasih atas hari ini :)

Spesial salam sayangku untuk Ibuk (almarhumah) yang selalu kurindukan yang telah menjadi tempat teraman mengantarku ke dunia ini :)

Happy Me Day <3

#selfhug


Sidoarjo, 13 April 2023

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In BPN Ramadan 2023 momlyfe

Tips Mudik dengan Transportasi Umum bersama Balita


Tips mudik naik kendaraan umum
Assalamualaikum.. Hai mommies :)

Tak terasa ya sudah memasuki hari ke-21 Ramadan yang juga berarti lebaran makin dekat. Momen yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Terlebih bagi warga negeri tercinta ini ada tradisi mudik yang tentu tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Saat-saat yang dinanti untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara, terlebih bagi yang merantau jauh dari kampung halaman. 

Banyak pula yang sudah menyediakan budget khusus dari jauh-jauh hari untuk agenda besar tahunan ini. Sebab biasanya memang porsi libur/cuti bersama untuk momen Hari Raya Idul Fitri lebih panjang daripada hari libur lainnya. Tidak hanya umat Muslim yang memanfaatkan momen ini, bahkan banyak yang beragama lain juga turut serta dalam semarak lebaran. 

Momen yang ditunggu-tunggu ini, tentu tak terlepas dari pilihan-pilihan sarana kendaraan yang akan digunakan untuk bisa sampai ke tempat tujuan mudik. Berbagai pertimbangan dipilah dan dipilih, sebab pasti memilih yang paling nyaman dan sesuai dengan budget yang ada. Tentu berbeda antara memilih kendaraan pribadi dengan transportasi umum.

Sebagai ibu baru kala itu, tentu aku ingin sekali bisa mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi yang bisa disesuaikan dengan kondisi. Seperti kemudahan untuk berhenti di rest area untuk buang hajat misalnya. Pasalnya membawa bayi/balita tentu memiliki tantangan tersendiri. Namun lagi-lagi, karena kondisi yang ada, maka bus menjadi satu-satunya pilihan yang ada saat itu.

Jujur saja, aku pun baru berani mudik/bepergian jauh dengan membawa anak, ketika anak sudah setahun. Terlebih menggunakan kendaraan umum yaitu bus. Banyak sekali yang perlu dipersiapkan, terutama mental diri sendiri, hehehe~

Aku yang sejak kecil seringkali mabuk ketika bepergian, ini masih harus membawa bayik, tentu aku maju-mundur hingga akhirnya memutuskan menunda hingga aku merasa siap dan menyiapkan anak juga. Jadilah momen mudik yang jauh perdana adalah ketika anak berusia kurang lebih satu tahun dengan kendaraan umum.

Bersyukur sekali perjalanan itu lancar meski ada beberapa kejutan. Alhamdulillah, anakku juga tipe anak yang mudah nyaman (berbeda sekali dengan emaknya ini). Berikut akan kubagikan sedikit tips yang mungkin bisa dicoba jika mommies berencana mudik tahun ini dengan kendaraan umum dan bersama dengan anak:

1. Persiapkan diri sebaik mungkin

Yang pertama kali perlu dipersiapkan tentunya adalah mental dan fisik sebaik mungkin. Mudik dengan kendaraan umum saja sudah termasuk menantang bagi ibu-ibu rumahan (red: mageran/kaum rebahan) macam aku yaa buibu, ini apalagi ditambah dengan membawa anak bayi/balita. Tantangannya jadi double yaa tentu saja. Oleh karena itu, perlu sekali menyiapkan terutama diri sendiri sebaik mungkin. Mulailah menata mindset dan persiapan untuk berbagai kendala yang mungkin akan terjadi. Tapiii, jangan terlalu khawatir yaa, takutnya makin galau dan akhirnya mundur dan nggak jadi berangkat. Bersiap sebaik mungkin dan serahkan sisanya pada Allaah :)

2. Perhatikan kebiasaan si Kecil

Penting sekali mengenali tipe anak kita seperti apa, apakah ia mudah nyaman dengan tempat dan suasana baru? Ataukah ia anak yang agak sulit beradaptasi? Tentunya setiap ibu sudah paham anaknya seperti apa, jadi langkah berikutnya adalah mencatat dan mencari celah cara agar anak bisa dibuat nyaman. Bisa dengan sounding, mengajak ngobrol anak tentang kegiatan mudik yang akan dilakukan. Tentu bayi/balita kemungkinan besar tidak bisa merespon langsung yaaa, tapi percayalah mereka bisa menangkap maksud moms loh.

3. Siapkan "sajen" untuk anak

Sajeeen dong. Maksudnya persiapkan dengan sebaik mungkin perlengkapan si kecil yaa moms. hihihi

persiapan mudik
Perlengkapan si kecil

a. Baju-baju yang nyaman digunakan. Usahakan tidak banyak pernak-pernik aksesoris yang bisa membuat anak makin risih jika kondisi tidak kondusif. Siapkan juga baju cadangan jika diperlukan untuk ganti sewaktu di perjalanan.

b. Makanan dan mainan favorit si kecil. Agar anak tidak merasa bosan bahkan hingga rewel, jangan lupa siapkan cemilan dan mainan atau buku favoritnya. 

c. Toiletries, seperti tisu basah, tisu kering, krim atau lotion. Jangan mengganti produk-produk yang biasa digunakan si kecil dengan produk baru dulu yaa moms.

d. Yang tak kalah penting, pospak yang nyaman.

Nah, ini dia insiden kejutan saat perjalanan mudik pertama kaliku bersama anak yang belum genap satu tahun kala itu. Dia poop dong, hahahah. Alhamdulillahnya, tujuan sudah dekat, jadi aku memutuskan untuk menahan sebentar untuk mengganti popoknya. Meski begitu ada sedikit perasaan bersalah, karena waktu itu aku luput untuk mempersiapkan kemungkinan ini. Meski tak seleluasa kendaraan pribadi, tapi sebagai penumpang kita bisa loh request kepada sopir dan kru bus untuk mampir ke rest area/toilet terdekat untuk mengganti popok atau untuk buang hajat kita sendiri. 

Baiklah begitu saja sedikti tips dari aku yang sudah lebih dulu menjajal pengalaman mudik dengan kendaraan umum with baby. Semoga tips ini ada manfaatnya yaa moms, semoga rencana mudiknya juga berjalan lancar, aman dan nyaman hingga kembali lagi nantinya. Aamiin. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In BPN Ramadan 2023 parenting

Ketika Anak TK Belajar Berpuasa - Hari Pertama

belajar puasa
dok. pribadi

 Assalamualaikum..

Haiii, welcome back to Ramadhan blog. hehe

Kali ini aku mau bercerita tentang proses mengajak Abian belajar berpuasa (yang lebih niat daripada sebelum-sebelumnya) untuk pertama kalinya. 

Alhamdulillah, proses belajar dimulai dengan kembali menjelaskan apa itu puasa, bagaimana caranya dan apa saja manfaatnya. Kemarin ia juga sudah sangat bersemangat mengikuti tarawih di masjid, meski pada akhirnya ia hanya sempat mengikuti sholat isya berjamaah, lalu sisanya ia tertidur beralaskan sajadah. Berujung tangan dan punggungku boyoken karena harus menggendongnya pulang. Sesampai di rumah pun ia tetap melanjutkan tidur nyenyaknya. 

Waktu sahur pun tiba, aku sudah bersiap untuk memasak sop (andalan yaa boen!) pada pukul 02.30. Abian pun masih pulas tertidur. Hingga dibangunkan berulang, dari mulai bangun duduk, lalu mau berpindah ke ruang makan, lalu tertidur lagi di meja makan. Untungnya ia masih mau makan beberapa suapan meski dengan mata merem melek. Usai santap sahur, ia pun kembali tidur hingga pagi. Warrbiyasaaa.. 

Pagi hari ia terbangun dengan ceria, ia sepertinya lupa kalau sempat bangun dan makan sahur. wkwk. Ada-ada aja tingkah random si anak TK. Akupun mengingatkannya kembali, bahwa hari ini kita sudah berpuasa Ramadhan dan baru boleh berbuka nanti saat adzan dhuhur. Ia pun bersemangat dan mengiyakan sajaa. Kami pun beraktivitas bersama, mulai dari belajar membaca buku, menggambar dan mewarnai dan lain-lain. Hingga ia minta ijin untuk main dibawah. 

Selang beberapa waktu, ia kembali dengan wajah memelas. "Bunda aku lapar." Dan, waw, ini baru pukul 08.00.. hahahaha

Akupun mencoba tenang dan bertanya apa ia benar-benar sangat lapar atau masih bisa tahan hingga pukul 10.00. Ia pun menyanggupi untuk bisa menahan hingga pukul 10.00 saja. Baiklaaah, masih amaan~

Kulihat juga ia masih aktif dan tidak menunjukkan tanda-tanda sangat kekurangan cairan atau apa. Meskipun tadinya ia menunjukkan perutnya yang datar wkwk. Memang begitulah berpuasa nak. Akhir-akhir ini, memang nafsu makannya sedang sangat sangat baik, Alhamdulillah. Kami habis pulkam ke rumah mbah yutnya, jadi serba ada, mbahyut tidak pernah membiarkan anak cucunya tidak bisa menemukan makanan, cemilan atau apapun untuk dikunyah, wkwkwk~ Walhasil, selama beberapa hari sebelum Ramadhan ia memang terbiasa untuk mengunyaaah sedari pagi...

Abian pun kembali sibuk dengan mainannya. Kujelaskan bahwa nanti pukul 10.00 kalau alarm di hp bundanya sudah berbunyi, tandanya Abian bisa berbuka puasa. Namun, setelah makan nanti Abian harus kembali berpuasa hingga Maghrib. Ia pun antusias. Sayangnya, setelah dijelaskan, ia malah justru sering bertanya kapan kapan kapan... jahahahaha. Sempat ingin kusudahi, tapi aku percaya ia bisa. Ditambah lagi, ia memang sudah bersemangat dan makan sahur diawal. 

Alarm pun berbunyi dan ia senaang bukan main. Ia menghabiskan sepiring nasi hanya beberapa waktu, makan sendiri tanpa babibu. Masih belum cukup, ia menambah sepotong kue oleh-oleh dari rumah mbahyut. Sewaktu ia berbuka inilah, aku kembali menyusupkan hikmah berpuasa. Agar kita senantiasa bersyukur dengan adanya makanan di rumah. Tidak mengolok-olok makanan dan menghabiskan makanan yang tersedia di piring nasi kita. Ia pun merespon baik, semoga memori baik ini terekam dalam ingatannya hingga ia dewasa kelak. 

Alhamdulillah, usai berbuka puasa, ia kembali mau melanjutkan puasanya hingga Maghrib. Tentunya diselingi dengan tidur siang dan aktivitas sore. Ia terlihat sangat senang saat adzan Maghrib berkumandang. Lagi-lagi ia bersemangat menghabiskan makanan di piringnya. Berkali-kali pula ia memuji, "masakan bunda terlezat" bla bla bla.. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah.. 

Hari pertama mission complete! Abian bahkan sempat bilang, ia senang sekali hari ini. Ia ingin setiap hari seperti ini. Alhamdulillah, semoga Allah berikan petunjuknya agar kami sekeluarga bisa terus istiqomah. Aaamiiin..

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KLIP

Ketika Pola Tidur Amburadul

canva

Assalamualaikum.. Haloohai, jam cinderella~


Setelah menikah, aku jadi bisa begadang. Beberapa hari lalu sempat curhat pula dengan teman-teman seperpawonan~ Kubilang bisa karena sebetulnya aku adalah seseorang yang sangat hobi rebahan. Tapi ternyata semua berubah ketika negara api menyerang menyandang status sebagai ibu dan istri seseorang. Rasanya kok sekarang ini aku makin rajin begadang, bahkan jadi hobi tidur diatas jam 10. Padahal sebelumnya, ketika masih gadis, aku dikenal sebagai kang molor akut. Nempel bantal dikit, bablas. Lihat kasur nganggur, buru-buru selonjor. Dan itu berlaku di banyak tempat, termasuk kost-an teman wkwk~ Ga tahu malu sekali yaa memang hehehe.

Apa usia bisa jadi salah satu faktor semakin bertambahnya cabang pikiran? Ya, sepertinya benar adanya yaa. Ada yang merasakan hal serupa ga sih? Padahal tahu teorinya, tidur cukup bisa menjaga kewarasan. Soalnya tidur itu salah satu basic #SelfCare. Hak tubuh untuk mendapat istirahat yang cukup, ayo ah perbaiki lagi pola tidurnya. Yang lain-lain bisa menunggu besoknya kok. Itu ucap batinku, namun kenyataan tak sejalan. Perlu menata ulang lagi nih. 

Setelah kuamati, biasanya aku punya beberapa fase perkara tidur ini. Fase hibernasi, bisa tidur banyak (sepertinya kebanyakan sih), bahkan mager ngapa-ngapain. Ini terjadi ketika energiku "kayaknya" habis terserap dan butuh diisi ulang setelah acara-acara diluar rumah bahkan di dalam rumah yang mengharuskanku melibatkan diri dengan banyak orang.

Lalu, fase ngalong, alias kang begadang, yang baru bisa tidur sekitar jam 11 bahkan pernah sampai jam 3 dini hari. Ini terjadi ketika banyak sekali suara-suara kecil yang berisik banget, dan sayangnya mereka suka munculnya pas mau tidur.

Diantara keduanya ada fase normal, tidur cukup dan membuat bugar. Hehe~

Sepertinya perkara tidur ini sepele ya, padahal kalau dipelajari lebih jauh bisa nemuin hal-hal yang sebelumnya kutaktahu. Gasabar belajar lagi nanti di kelas Nutrisi & Tidur @momilenial.id perlu refresh lagii nih mb @itsnita.husnufardani

Kalau pesan mb Farda kemarin, Mindfulness itu seperti halnya melatih otot. Bedanya latihan otot dengan berolahraga, kalau latihan mindfulness dengan olah pikiran. Sepertinya otot mindful ku juga masih kaku-kaku, jadi kemungkinan besar pola tidurku juga sedikit banyak dipengaruhi oleh ini sih. Semoga dengan menuliskan ini jadi makin sadar lagi dan berbenah untuk mewujudkan resolusi 2023: lebih welas asih ke diri sendiri. 

Baiklah, selamat tidur, mari kita latih lagi ya An!

@30haribercerita
#30hbc2306

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KLIP

Semangkuk Bakso Berdua



 


Assalamualaikum.. Hola spadaaa~ 
Kemarin skip KLIP karena yaa begitulah ibu-ibu satu anak ini, sangat sok sibuk ygy. huhu

Malam ini, aku mengajak anak bujangku untuk We Time alias pergi berdua saja. Sebab dari kemarin ia sudah protes, katanya ia jarang diajak keluar olehku dan ayahnya, hehehe. Baiklah, kali ini karena sudah diminta, berarti memang perlu menyediakan waktu untuknya. 

Aku tanya padanya ingin makan apa malam ini, "Abian mau makan apa? Ayam goreng? Bakso?" Ia menjawab, "Bakso." Kami pun menikmati makam malam semangkuk bakso berdua, setelah muter-muter dulu ke pom bensin, laundry hingga akhirnya sampai pada warung bakso sederhana, bertuliskan "Bakso Beranak." 

Kami hanya memesan semangkuk bakso plus satu buah lontong untuk dimakan berdua, karenaa oh karena aku memang tidak sedang terlalu lapar, dan kadang napsu makan Abian seringkali tak tertebak. Pikirku jika memang kurang bisa tambah lagi, daripada memesan kebanyakan khawatir mubadzir. Diluar dugaan, ia sangat lahap bahkan ingin menambah wkwk~ Senangnya hati mamak, melihat anak lahap makan seperti ini.

Ingatanku melaju pada belasan tahun lalu, ketika aku masih kecil dan seringkali diajak pergi oleh ibuk. Biasanya setelah berkeliling pasar seharian, literally seharian heyy, sampai rasa lutut mau copot dan membuatku terkadang menyesal sudah ikut dan berpikir lebih baik di rumah saja, oh iya, setelah berkeliling seharian mencari berbagai kebutuhan yang sudah ibuk rencanakan, kami akan diajak andok oleh ibuk! Yeay.

Tapi sayang, ingatanku tentang andok seringkali banyak mirisnya. Sebab, seringkali ibuk memesan hanya untuk anak-anaknya, yaitu aku dan adik. Sesuatu yang kusadari dan membuatku tidak nyaman. Kenapa harus seperti itu? Bukankah ibuk juga lapar, bukankah ibuk juga ingin makan bakso semangkuk utuh tanpa menunggu "sisa" anak-anaknya yang nggak habis (atau sengaja nggak dihabisin)?

Sayangnya, hal itu tidak bisa lagi kukonfirmasi karena beliau sudah berpulang hehe~
Ingin rasanya tanpa perlu bertanya, aku yang mengajak ibuk pergi makan apa saja yang ia inginkan. Utuh satu porsi untuknya. Namun, kesempatan itu sudah tidak bisa kudapatkan. Gapapa ya buk, kutraktir doa saja yang banyak dari sini :)

Beberapa waktu lalu, sempat curhat ria juga kepada mb Farda, soal "kenapa sih ibu-ibu harus menghabiskan sisa makanan anaknya?" Iya, kenapa ya? Bagiku, itu bukan hal yang wajib. Sebagai seorang ibu, aku perlu mensejahterakan diriku dulu termasuk urusan perut. 

Uangnya ga cukup, bukan menjadi alasan untukku menahan atau yang kerapkali dijuluki sebagai pengorbanan. Bagiku lebih baik makan bersama meski sedikit, daripada harus merasa ada yang berkorban. Semoga selalu dicukupkan rizki oleh Allah :)







Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KLIP

Guru Kecilku Cermin Hidupku

 Assalamualaikum.. Hola

Hari ini bingung mau nulis apa.. sepertinya perlu mencari waktu lain untuk menulis agar lebih kondusif jiwa raga..

Baiklah, malam ini aku terpikirkan untuk menulis tentang anak sulungku (sementara masih tunggal hehhee)


Abian namanya. Nama yang kupilihkan untuknya dengan harapan ia bisa menyampaikan yang haq (kebenaran) dengan bayan (jelas). Jelas tanpa keraguan dan jelas karena memang ia paham ilmunya. Insyaallah biidznillah.

Seringkali manusia bertubuh lebih mungil dariku ini mengingatkanku pada diri sendiri.

Dia seperti cermin bagiku.

Caranya pundung.

Cara dan pola makannya.

Cara dia merayu orang marah.

Tingkah absurd dan ungkapan-serta pertanyaan randomnya.

anafarahan.blogspot.com
dok.pribadi

Tentu saja hal ini wajar yaa sebagai seorang ibu dan anak, kedekatan dan kelekatan itu pasti akan meninggalkan jejak. Entah apa saja yang bisa diwariskan orang tua kepada anaknya. Tapi ini yang kurasakan sejauh ini ada padanya.

Bahkan, dia mewarisi 'bakat' mengimajinasikan bentuk/gambar pada dinding/obyek yang abstrak dariku. Dan kita nyambung-nyambung aja selagi menunjuk mana yg dimaksud. Ada istilah yang aku lupa entah apa namanya. Itu tidak aneh ternyata, ada beberapa orang yang juga seperti itu. Awalnya aku kaget, kok bisaa dia juga melihat obyek yg sama denganku. Slide kedua, menurut kalian ada gambar apa saja disitu?

Tapi, dia tetaplah dirinya sendiri. Bukan milikku sepenuhnya. Bukan foto-copyanku, bukan juga versi miniku. Meski banyak yang bilang mirip sekali wajahnya denganku. Aku sih senang saja kalau banyak yang menganggap demikian.

Satu hal yang sangat jauh berbeda dariku dengannya, adalah cara dia menyampaikan sesuatu: jujur dan tulus apa adanya. Ia sudah mengerti, apa yang ia rasakan dan mampu mengungkapkannya. Ia juga mudah sekali meminta maaf jika salah, serta mudah pula memaafkan ๐Ÿฅบ

Berbeda dariku yang sudah setua ini masih saja sulit mengurai apalagi mengungkapkan apa yang kurasakan. Mungkin karena sudah saking ruwetnya isi kepala kali ya. Aku kadang ingin meminjam pikiran anak ini untuk sementara, agar hal-hal yang kerapkali menyita waktuku tidak perlu terlalu kupikirkan karena ternyata setelah dipikir-pikir malah jadi kepikiran wkwk. Maksudnya overthinking hingga menyebabkanku kurang tidur gitu.

Hal berikutnya yang kurasa tidak ada padaku juga adalah, energinya yang seperti tidak ada habisnya. Nampaknya ia menurun dari ayahnya yang extrovert. Dia suka sekali berada di tengah riuhnya keramaian duniawi ahaha. Berbeda dariku yang lebih suka keheningan dan kesendirian.

Terima kasih yaa, sayangku cintaku yang mulai sering nyebelin dengan bertambahnya usia ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜† 

Karena sudah punya keinginannya sendiri dan berusaha kekeh dengan pendapatnya.

Semoga bundamu ini bisa selalu berkaca padamu jika hampir habis sisa kewarasan. Untuk selalu stok sabar lagi, untuk mudah meminta maaf dan memaafkan. Untuk lebih sering mendengarmu tanpa perlu kau panggil berulang kali~


@30haribercerita 

#30hbc2303

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KLIP

Belajar dari Kang Nasi Goreng Gerobak

Assalamualaikum... 

Holaa.. kali ini aku copas dari tulisan caption IG dulu yaa hehe


02/30


Seharian ini aku malas sekali makan nasi. Hasrat ingin mengunyah nasi pun akhirnya muncul pada jam makan malam yang terbilang agak kemalaman hehe

Sengaja mencari waktu untuk mindful eating, setelah Abian tidur ๐Ÿคญ

Aku pun berangkat menuju kang nasi goreng terdekat.. Sebab tentu saja aku hari ini lagi-lagi tidak memasak. Heuheu~

Antriannya lumayan mengular. Tapi ya karena sudah pingin, rasanya sudah beberapa waktu lamanya ga beli nasgor.

Kupesan satu bungkus nasi goreng dan satu bungkus mie goreng.

Sembari menunggu dengan perut keroncongan dan air liur yang turut serta hadir (untung pake masker, sepertinya ga keliatan aku beberapa kali menelan ludah, haha, semoga).. Kudapati beberapa hal.. Mindful pesan nasi goreng judulnya ๐Ÿ˜Œ

Dan pikiranku pun tertuju pada #30hbc ๐Ÿ˜† sepertinya aku akan menulis tentang 'nasi goreng' lagi..

Oyaa, beberapa hal yang kuamati pada kang nasgor tuh yaa..

Biasanya bapak-ibu (atau kebanyakan single fighter alias bapaknya saja) sangat mindful ketika ngosreng-ngosreng nasi ataupun emi. Yaa kebayang sih yaa, wajan segede itu, kalo ke-nyos pastilah lumayan rasanya.

Terlihat dari cara kerja yang sat set wat wet.. Bahkan menerima pesanan pun kadang tanpa melihat dengan seksama pembelinya, itupun bisa hapal detail pesanannya apa saja. 

Skill yang sangat mumpuni ya..

Hal kedua, jika penjualnya adalah pasangan bapak-ibu. Wah, kurasa skill komunikasi produktifnya jalan banget sih.. Terlihat dari cara mereka bekerjasama, tanpa aba aba, tanpa babimu, ketika si bapak sibuk mengosreng hingga menuang ke kertas minyak.. Si ibu sudah tahu apa saja yang harus dilakukan.

Aku jadi membayangkan gimana jadinya kalau aku dan suami yg jualan nasgor, bisa-bisa belum genap sehari sudah embuh gatau bentukan jualannya.. 

Gimana enggak, perkara mau beli pentol aja bisa membuat percik-percik prahara rumah tangga~

Yaa tentulah bapak ibu nasgor tadi sudah mahir karna memang kondisi mengharuskan mereka berdua sekompak itu. Pastilah juga butuh belajar di awal yaa..


nb: jangan resah dan bingung fotonya apa isi captionnya apa!Gapapa yaa, namanya juga ibu2 yang kalau keluar sebentar ga akan bawa hape~

mie goreng dan soto ayam
dok. pribadi


@30haribercerita 

#30haribercerita 

#30hbc23

#30hbc2302 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In KLIP

Resolusi Retjeh Seorang Ibu

Assalamualaikum..

Haloooo everyone! Anybody here? Yes, I am! haha~



Alhamdulillah.. kali ini mencoba memulai tahun baru dengan membuat resolusi ala-ala, yang khusus kuabadikan di blog tercinta inih, dengan pembaca setianya... yaitu diriku sendiri!

Sejak tahun 2019, aku turut serta memberanikan diri meramaikan ajakan menulis khusus awal tahun lewat akun @30haribercerita. Akun ini makin ramai tahun-ketahun, para pencerita dibebaskan sebebas-bebasnya untuk saling bercerita dan membagikan tulisannya dengan tagar #30haribercerita. Kenapa judulnya begitu, ya karena memang hanya 30 hari saja dan waktunya di bulan Januari! Seru sekali bukan.. aku ketagihan meski pada praktiknya sering hutang dan rapelan ehehe

Aku sadar diri, tulisan-tulisan recehku itu memang kadang dan seringnya kurang berisi. Khas sekali dengan gaya tulisanku yang ngawur bin random alias suka-suka diriku. Persis seperti tulisan yang kini kutulis ini. Namun, aku tetap ikut saja meski mungkin banyak ngasal. Tetapi lebih baik mencoba daripada menyesal bukan?

Dan atas dorongan itu pulalah aku tertantang untuk mengikuti tantangan menulis dari KLIP aliasn Kelas Literasi Ibu Profesional. Sudah disediakan fasilitas belajar oleh komunitas yang kuikuti sejak 2019 kenapa tidak dimanfaatkan yaa kan. Terdorong juga oleh semangat kakak-kakak senior (ihiiir senior) yang sudah terlebih dulu bergabung dan lulus serta menghasilkan sebuah karya solo, hatiku berdesir.. dag-dig-dug apakah ini cinta? Ya, kurasa ini patut dicoba hihi

Jadilah, disini aku sedang membuat coretan-coretan ini pada pukul 22.33 waktu tertenang karna anak dan suami sudah terlelap.. Insyaallah menjadi titik mula resolusi 2023 ku, bismillaaah berangkat dengan niat yang baik. Minimal dengan menulis aku bisa membuang pikiran-pikiran negatif yang kerapkali membuatku syulit tidur karena overthinking... 

Bismillaah.. to do list tahun ini dimulai
  • Lebih sering SelfTalk dan berbaik hati ke diri sendiri
  • Lebih sering ngajak Abian main diluar
  • Lebih sering mendengar dan menaati Park Bee Moo aka myBojo
  • Lebih produktif dengan tulisan, diawali dengan #30haribercerita dan KLIP
  • Challenge Read Aloud, yang sebentar lagi juga akan digelar. Menjadi kegiatan favoritku bersama Abian
  • Peran lama di kepengurusan dua komunitas dengan tantangan-tantangan baru tentunya
  • Merencanakan project pribadi dengan matang! Yoo, semangat yoo
  • Apalagi yaa... sementara itu dulu deh.... jangan muluk-muluk namanya juga resolusi retjeh

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In khitan parenting

Pengalaman Mengkhitankan Anak Usia 5 tahun

 Assalamualaikum.... Holahai parents-mania~

Apadah heuheu~

Bismillaah, tulisan kali ini insyaallah agak serius nih gaiz pembaca budiman. Tentang pengalaman mengkhitankan alias menyunatkan anak berusia 5 tahun. Yaps, Abian, anak bujang yang kini telah duduk di bangku sekolah TK. hihi.

Alhamdulillah wasyukurillah, setelah perjalanan men-sounding dia dari -lupa kapan tepatnya, intinya udah lama lah yaa.. Akhirnya, perjalanan untuk mengantarkannya berangkat memenuhi salah satu kewajiban dasar seorang muslim, yakni berkhitan terwujud juga. Tentu sebagai bundanya, aku merasa lega. Meski dalam pelaksanaannya tidak semulus itu bundah!

Niat untuk mengkhitankan anak ini sebetulnya sudah terlintas sejak dia bayi. Sebab kubaca-baca dari beberapa sumber (medsos doktergram) memang sangat dianjurkan untuk mengkhitan anak sedini mungkin, dengan pertimbangan medis. Bahkan ada yang dikhitan sesaat setelah dilahirkan pula. Saat itu aku punya keinginan untuk segera menggelar khitanan sekalian dengan tasyakuran aqiqah, biar hemat juga yes. Namun sayang, ayahnya tidak setuju dan menolak permintaanku tersebut. Walhasil sebagai seorang istri yang baik, aku nurut saja. Ahihihi

Tahun kedua, ketiga, keempat.. semakin kubaca informasi tentang khitan semakin aku ciut untuk memberangkatkan anak untuk khitan. Sebab katanya, meski di era modern ini peralatan khitan sudah canggih dan katanya tidak menimbulkan rasa sakit, tetap saja ada warning bahwasanya anak yang masih aktif merangkak, berjalan, berguling-guling dan lain sebagainya akan menemui kendala. Disamping memang belum ada dana yang disiapkan secara khusus, hehe.

Begitulah sampai akhirnya Abian masuk usia sekolah TK, usia 5 tahun. Bertepatan dengan miladnya yang kelima di bulan September, aku bermaksud menawarkan Abian untuk khitan. Kuajak, kutawari bahkan dengan agak kuiming-iming (mengundang teman-teman ke rumah) ternyata anaknya belum mau. Baiklah, pikirku ya sudah gapapa belum mau, mungkin tahun depan coba lagi. Mungkin dia lebih siap dan berani.

Tidak ada perayaan milad secara khusus, hanya membawa nasi & snack untuk teman-teman sekelas. Lalu kehidupan kamipun berjalan normal seperti biasa wkwkwk. Hingga beberapa hari kemudian, tepatnya di awal Oktober, aku melihat status WA teman SMK yang menginfokan tentang sunat masal yang akan digelar oleh perusahaan tempat ia bekerja. Akupun sumringah, tapi yaa tidak bisa terlalu berharap lebih, mengingat Abian yang memang bilang bahwa ia belum siap untuk sunat.

Namun, bukan aku namanya kalau tidak coba-coba duluu yee kan. Kucobalah untuk iseng nanya pendaftaran, apakah dibuka untuk umum dan apa saja persayaratannya. Pertanyaanku direspon dengan baik oleh narahubung dari pihak penyelenggara. Selanjutnya, aku meminta ijin dari ayahnya Abian, dan direspon positif juga olehnya.

Babak akhir adalah meminta pendapat dari yang bersangkutan, si calon anak yang mau dikhitan. Kukira responnya masih akan sama: menolak. Sebab masih baru beberapa hari tawaran itu kulontarkan berulang. Alhamdulillaaah, surprisingly amazingly anaknya mauuuu! Takbir! Maasyaallah tabaarakallah. Beneran deh, ketika tidak menaruh ekspetasi tinggi dan hanya berharap diberikan jalan terbaik dari Allah, malah dikasih bonus seperti ini hehee.

"Bi, ini loh ada sunat masal. Abian mau sunat?" hanya itu kalimat yang kuucapkan pada Abian kala itu. Lalu dia dengan santainya menjawab, "haa, mana bunda? oh, yaudah deh, ayok sunat." Sesimple itu ternyata kalau Allah sudah menggerakkan hati seorang hamba~ Tiwas aja, aku ngoyo-ngoyo nyiapin proposal pendanaan segala ke ayahnya. Ternyata sama Allah mau dikasih free :D

Tahap persiapan

Nah, begitulah kira-kira proses deal-deal-an sama Abian soal khitan. Jika boleh kutuliskan beberapa langkah sebelum akhirnya memutuskan untuk khitan berikut ini

  • Sounding dari jauh hari, persiapkan mental baik orang tua terutama mental anak. Jangan pernah menakut-nakuti anak dengan ancaman sunat, sebab sepertinya masih banyak orang-orang tua yang belum paham tentang ini. Hindari mengatakan, "woo, tak sunat loh nanti" ketika anak-anak sedang aktif-aktifnya. Kalimat seperti itu akan tertanam di alam bawah sadar, bahwa sunat itu menyakitkan, sunat itu tidak enak, sunat itu sesuatu yang menyeramkan.
  • Cari tahu informasi mengenai metode sunat apa saja yang ada dan memilih metode mana yang paling sesuai dengan keinginan (baik dari segi biaya maupun proses khitannya sendiri). Banyak sekali metode-metode kekinian yang ditawarkan oleh rumah sunat, mulai dari metode konvensional, laser, ring dan lain sebagainya.
  • Setelah cukup paham, ajak anak untuk berdiskusi tentang khitan. Bisa diawali dengan penyampaian tentang khitan itu apa, kenapa seorang muslim wajib berkhitan. Jelaskan apa adanya dan jangan menambah atau mengurangi informasi. Hindari membujuk anak dengan kata-kata: nggak sakit kok! Padahal kenyataannya, memang khitan sedikit banyak akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Baik itu saat proses khitannya ataupun saat proses penyembuhan. 
  • Berdoa kepada Allah SWT, karena hanya Allahlah yang Maha melembutkan hati. Termasuk hati anak kita yang masih berusia 5 tahun misalnya.
  • Menjelaskan dan meminta dukungan dari keluarga terdekat. Pada kasusku kemarin, aku agak terlewat tentang hal ini. Suami sudah setuju, namun aku lupa tidak menyampaikan ke keluarga lain yang tinggal serumah. Bukan lupa sih yaa mungkin, lebih tepatnya tidak memberitahukan lebih awal, dengan alasan tidak mau merepotkan wkwk. Duh, padahal ini penting banget juga, karna ternyata proses recovery pasca khitan cukup membuat hati bergidik~

Proses Khitan

paling kecil hehe


Singkat cerita, hari H khitan pun datang. Tepatnya tanggal 20 Oktober. Aku sudah sibuk bersiap dari hari kemarinnya, mempersiapkan sarung yang akan dipakai dan bekal untuk khitan. Pagi itu kami berangkat dari rumah dengan mobol (mobil online, apalah istilahnya) karna ga mungkin juga kan nantinya naik motor setelah dikhitan hehe~

Ga nyangka ternyata para peserta udah gercep hadir, sehingga Abian pun mendapat no urut agak belakang. Baiklah tak mengapa, lagian juga kami nggak buru-buru. Mungkin juga di urutan akhir jadi ada waktu untuk Abian lebih rileks dan lebih siap. Ternyata lagi nih, Abian menjadi peserta termuda, ahiww jadi maknae diaa- yang daftar dan hadir pada khitan massal kali ini. Alhamdulillah dapat potongan nasi tumpeng, baarakallah.

Tiba giliran Abian dipanggil untuk di-eksekusi- ngeri kali bahasanyaa, tiba giliran Abian untuk dikhitan. Ternyata tidak terlalu lama, kami datang sekira pukul 8, pukul 10an sudah dipanggil untuk khitan. Proses pertama yang harus dilakukan adalah memberi obat bius lokal pada bagian sekitar p*nis. Tentu saja sebagai ibu yang tidak pernah punya pengalaman sebelumnya mendampingi siapapun khitan, aku ikut deg-degan. Abian diminta berbaring dan membuka sarung, sambil berpegangan tangan dengan erat kepadaku, ia diminta untuk bilang "bismillah."

Meski agak ndredeg, Alhamdulillah proses pembiusan berjalan lancar, tanpa drama dan tanpa tangisan. Berasa superhero dia ditepuk-tangani dan disambut oleh karyawan yang sedang bertugas disana. Hamdalah, dia terlihat senang dan bangga hihihi~

Usai proses pembiusan, kami keluar ruangan lagi karena petugas yang mengkhitan masih antri. Tak lama kemudian, giliran Abian masuk ke ruangan lagi. Lagi-lagi dia sangat percaya diri dan dengan gagah berani melangkah hingga naik ke tempat tidur sendiri wkwkwk~

Metode yang digunakan saat itu dengan menggunakan laser. Jadi semi konvensional gitu lah ya sepertinya, karena masih perlu dijahit juga. Aroma asap pun mulai tercium dan aku lagi-lagi deg-degan sangat! Padahal anaknya anteng-anteng aja, yaa karena dia kuberi nonton yucub sih, soalnya dia kepo mau bangun dan lihat prosesnya.

Selama proses khitan berlangsung -yang kalau kuingat-ingat sepertinya ga sampai 10 menitan, yang agak lama proses menjahitnya- aku banyak bertanya kepada bapak petugasnya (wallahu a'lam saat itu yang bertugas dokter atau perawat) tentang proses perawatan pasca khitan. Beliau lalu menjelaskan, boleh untuk diberi ini dan itu. Setelah pipis dibersihkan dengan apa, dan lain sebagainya. 

Proses khitan selesai!

Kami langsung pulang dan Alhamdulillah mendapat banyak sekali oleh-oleh dari penyelenggara. Maasyallah totalitas sekali! 

selesai khitan yeay


Proses Recovery

Proses pasca khitan menjadi proses yang menjadi salah satu penyebab kuat kenapa aku perlu menulis dan membuat catatan pengalaman khitan ini weheheh. Why? Yaa karena prosesnya tidaklah mudah bestie!

Sepulang dari khitan, Abian masih sempat haha-hihi riang gembira membuka oleh-oleh yang ia dapat. Alhamdulillah, satu tas penuh berisi sarung, sajadah, snack, alat tulis dan juga uang saku. Kengerian pun mulai ketika beberapa jam setelah pulang dari khitan, obat biusnya hilang efek! Awalnya ia mulai terisak, mungkin baru permulaan rasa sakitnya timbul ya. "Bunda, kok mulai sakit ya?" sambil berkaca-kaca ia meraih tanganku.

Aku yang saat itu baru akan memberi obat minum yang diberikan oleh penyelenggara mulai was-was. Wah, kira-kira Abian akan merasa kesakitan separah apa ya? Nah, kesalahanku adalah tidak mempersiapkan apapun untuk menghadapi nyeri yang timbul ini. Huhuhu

Beberapa teman yang kutanyai, memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang memberikan be**d*ne, minyak-minyakan dll. Pun juga bapak pengkhitan sendiri menyebutkan bahwa tidak perlu diberi apa-apa juga tidak apa-apa. Bingung ga tuh! Puyeng asli bunda.

Belum lagi, skala isakan berubah jadi tangisan, lalu naik lagi jadi tangisan disertai teriakan kencang wwkwk

Buyar konsentrasi mamak nak! Sembari terus berada di sisinya, aku coba untuk bersikap tenang meski hati ambyar. Keluarga pun mulai berdatangan ke kamar tidur, serangan panik melanda. Namun kami putuskan untuk membeli salep pereda nyeri ke apotek. Alhamdulillah, dapatlah satu salep yang manjur sekali waktu itu.

Sekali oles, alhamdulillah berkurang juga tangisan anak 5 tahun yang baru saja dikhitan ini. Salep itu ternyata hanya berfungsi untuk menghilangkan nyeri namun efeknya lukanya jadi basah. Aku memberikan salep itu hanya 2 kali saja.

Kepanikan selanjutnya adalah saat buang air kecil. Menurut petunjuk, usai pipis memang belum diperbolehkan untuk terkena air. Jadi solusinya cukup diusap (ditutul) lembut dengan kapas atau tissue. Itupun beberapa hari selalu ada sedikit drama kecil usai pipis wkwk

Soal mandi bagaimana? Yes, beberapa hari Abian tidak mandi byur-byur. Demi agar lukanya cepat mengering. Mandi pun hanya diwakili oleh waslap yang dibasahi alias seben kalau orang Jawa bilangnya.

Total waktu sampai benar-benar kering dan bekas luka terkelupas sempurna kurang lebih 2 minggu. Total waktu menangis-menangis, alhamdulillah 2 hari saja disertai dengan rengekan kecil tiap usai pipis hehe. Oh iya, karna Abian sudah TK, jadi terpaksa ijin selama 7 hari tidak masuk kelas (sekolahnya Senin-Jumat). Sebetulnya 10 hari sudah kering dan mungkin bisa sekolah, tapi melihat tingkah anak TK yang selalu aktif always on mamak tidak tega jika bekas lukanya nanti tersenggol atau khawatir ada insiden yang tak diinginkan. 

Begitulah sekelumit cerita pengalaman mengkhitankan anak TK. Apresiasi besar untuk keberanian dan ketegarannya selama proses khitan hingga penyembuhan. Semoga Abian menjadi anak shalih. Tulisan ini dibuat sama sekali bukan untuk membanggakan diri ataupun sok paling tahu, karena aku hanya ingin mengabadikan momen dan mungkin suatu saat nanti akan kubaca ulang semisal punya anak (cowok) lagi hehehe

Saran bagi bunda-bunda yang berencana mengkhitankan ananda dalam waktu dekat, sebisa mungkin persiapkan sebaik mungkin perawatan pasca khitan. Dengan metode apapun, rasanya itu yang paling penting ya. Juga jangan memaksakan anak untuk segera mau dikhitan jika memang anaknya belum siap, bisa stress sendiri nanti ortunya. 

bonus kunjungan sahabat :)


Sekiaaan, semoga ada hikmah yang bisa diambil yaah bundah :)
Luupph <3

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In read aloud parenting

Review Buku Cara Ajaib Menutrisi Otak Anak karya dr. Putri Zalika Kesuma: Nostalgia Masa Kecil

Assalamualaikum.. 

Hai, sobat pembaca (kalo ada)......
Lama jua tak bercuap di blog yang hampir setahun lamanya mati suri ini mueheheheh, peace, love and gawl!

Kali ini, daku ingin mereview sebuah buku karya kakak Senior yang kukenal melalui Ibu Profesional yang berjudul (udah ada di judul sih yaa, gpp, biar lebih terang benderang) Cara Ajaib Menutrisi Otak Anak karya dr. Putri Zalika Kesuma, M.Pd.Ked :)

cara ajaib menutrisi otak anak

Profil Penulis

Yups, karya ini merupakan buah karya dari dr. Putri Zalika Kesuma, M.Pd.Ked. atau lebih akrab dengan sapaan mbak Puza (dulu kukira nama aseli beliau memang PUZA, yunik sekali kupikir hehehe). Kenal-kenal karena SKSD, lalu mencoba menghubungi beliau untuk menjadi narasumber sebuah acara seminar yang digelar oleh momilenial.id pada awal tahun 2020. Meski sebelumnuya belum pernah bertemu secara personal dan dekat, hanya berinteraksi melalui media sosial ternyata beliau sangat humble dan tidak segan berbagi banyak ilmu di sela-sela kesibukannya yang warrbiayasak. Begitupula dengan suami beliau yang juga seorang dokter (spesialis andrologi). Kamipun sempat beberapa kali mengadakan kolaborasi seminar daring pasca acara tersebut. 

Profil Penulis (dok. pribadi)

Berikut lampiran profil perkenalan yang beliau tuliskan di halaman akhir buku karya beliau ini ya gengs. Maasyaallah kan, begitu semangatnya beliau untuk menimba ilmu, terlebih yang mendukung perannya sebagai seorang ibu. Kalau kata adekku aku tuh orang yang suka belajar, adekku sepertinya perlu kukenalkan dengan mbak Puza ini hihi. Sebab, meski sudah sangat sibuk sebagai dokter dan dosen, beliau tidak segan-segan menimba berbagai ilmu parenting juga, mulai dari Montessori, Neuro Parenting, Enlightening Parenting, hingga Read Aloud Training! Kwereeen pwooll yaa :)

Yaaak, jadi malah review orangnya nih gimana wkwkwk

Back to review buku beliau yaaa mantemin.. menurutku buku ini adalah salah satu buku yang wajib dipunya oleh para orang tua sih! Must have lah pokoknya mah! Berawal dari sampul buku yang gemoy dibawah ini, hati mana yang tidak kepincuuut ygy. Eh, salah ding, awalnya belum dispill covernya malahan, tapi karena beberapa kali mengikuti kelas beliau kusudah yakin bahwa buku ini sangat-sangat harus kupunya dan kubaca! 

sampul cara ajaib menutrisi otak anak
Sampul Depan (dok. pribadi)

Judul Buku            : Cara Ajaib Menutrisi Otak Anak (CAMOA)
Penulis                  : dr. Putri Zalika Kesuma, M.Pd.Ked
Kategori                : Parenting
Penerbit                : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman   : 151 (termasuk referensi dll)
ISBN                    : 978-602-291-946-9
Ukuran                 : 14 x 20,5 cm
Harga                   : 69.000 IDR

Daftar Isi & Sinopsis


daftar isi cara ajaib menutrisi otak anak
Daftar Isi (dok. pribadi)

Sampul Belakang, Blurb (dok. pribadi)

Buku setebal 151 halaman ini menyajikan paparan bab demi bab yang runut dan nyaman untuk dibaca. Berisi 6 bab yang isinya ndaging banget! Seperti sudah tertera pada judulnya, mbak Puza dengan apik meracik bahasan atau kaitan antara pentingnya literasi parenting dengan membaca nyaring juga tahap perkembangan otak anak (bahasan di neuro parenting). Buku ini adalah buku panduan tentang membaca nyaring (read aloud) yang detail mulai dari pengenalan apa itu membaca nyaring, bagaimana cara melakukannya, hubungannya dengan perkembangan otak anak bahkan mendetail hingga ke contoh buku yang sesuai dengan tahapan usia pembaca. 

Halaman Favorit

Jika ditanya mana sih halaman favorit untukku, maka jawabanku (semoga ga ada yg suudzon daku peres karena ngereview buku seorang teman) adalah hampir keseluruhan isi buku hehehe. Ya, karena isi dari halaman ke halaman, bab per bab ini ditulis dengan sepenuh hati sih yaa menurutku. Tidak hanya risetnya yang mendalam (terlihat dari buanyaknya referensi baik dari buku maupun jurnal ilmiah yang mbak Puza cantumkan), tetapi juga kaya akan pengalaman yang langsung dilakoni oleh mbak Puza dan keluarga. Jadi isinya tidak hanya sekadar teoritis belaka tapi juga bisa banget dipraktikkan langsung, dan mbak Puza juga tak sungkan menuliskan catatan pengalaman selama membersamai putri-putri beliau looh.

Sukanya membaca buku seperti ini, walaupun materinya terkesan beurat -setidaknya bagiku yang mon maap, kapasitas berpikirnya belomlah seluas itu wkwk- tapi tetep bisa dibaca dengan enak karena berasa ngobrol ilmiah dengan ahli sekaligus praktisinya langsung. Jujurly, buku ini udah hampir sebulan ada di rumah hehe. Tapi, karena entah alasan kemageran kesibukan diri ini, sengaja menyediakan waktu khusus untuk mulai membaca buku ini agar ilmunya terserap dengan baik. Alhamdulillah, benar saja.. meski buku ini tidak terlalu tebal, menurutku porsinya sudah pas dan cukup lengkap ulasannya. Seperti yang sudah kusebut diatas, mulai dari pengenalan tentang apa itu membaca nyaring, keterkaitannya dengan perkembangan otak anak, hingga keajaiban-keajaiban yang nampak dari kegiatan sederhana ini. Selesai baca dalam waktu 3 hari saja, ya ya, mungkin ada yang bisa lebih cepet, tapi kembali lagi ygy kapasitas otak ini perlu dibagi-bagi biar tidak ngebul lalu meledak duaarr :p

Berikut kuspill halaman favoritku yaa... jangan semua atuhlah, kalau mau lengkap yaa baca sendiri wkwkwkwkwk :p

cara ajaib menutrisi otak anak
Ternyata oh ternyata, otak yang lebih dulu matang pada anak itu otak emosi loh (khususnya amygdala) daripada otak logikanya.

Bagiku, buku ini patut dijadikan salah satu koleksi yang wajib para ortu baca! Yee, lagi-lagi dah kayak softselling aja nih hahaha. Eh tapi maap-maap nih, ini review insyaallah yuyur seyuyur-yuyurnya tanpa endorse xixi. Poin plus buku ini membahas tentang Read Aloud dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan buku sejenis, meskipun yaa ini buku pertama tentang membaca nyaring yang kupunya dan kubaca sih, huehehe. Mungkin terlalu cepat menyimpulkan yaa akunya, karena belum sempat baca literatur serupa. Tapi seingatku setelah dahulu kala sempat mengikuti pelatihan secara langsung dengan bu Roosie Setiawan -pendiri komunitas Read Aloud di Indonesia yang juga menjadi Satgas Literasi Sekolah dan penulis buku Membacakan Nyaring, pada akhir 2019 sepertinya bahasan ini memang baru mbak Puza yang mendetailkannya seperti ini hehe. Maaf kalau salah, nanti diupdate kalau sudah baca-baca buku serupa lainnya yaa. 

Oh iya, awal buku ini datang, Abian (anak bujangku) mengira bahwa buku ini buku untuknya. Selucu itu ilustrasi sampul bukunya hihi. Akhirnya dia ikut minta dibacakan ketika aku membaca buku ini. Pada halaman pendahuluan, dia ikut menyimak yang kubaca. Mbak Puza menuliskan pengalaman emosi positifnya sewaktu kecil, betapa buku menjadi salah satu memori indah bersama keluarga. Lalu aku jadi bercerita kepada Abian tentang masa kecilku dengan alm. ibuk yang saat itu belum memiliki akses seperti jaman sekarang terhadap buku bacaan. Masa kecilku yang kubaca adalah plang-plang toko ketika dibonceng sepeda oleh ibuk sewaktu pergi kemana-mana, sesekali ibuk mengajakku membeli majalah bobo bekas seharga dua ribuan hehehe. Memang buku bagi keluarga kami waktu itu bukanlah prioritas utama dan bahkan menjadi barang mewah. Namun secuil kenangan manis itu masih melekat dalam ingatanku, bahwa dulu ternyata mendapat sebuah buku bacaan itu bisa semembahagiakan itu. Maka ketika aku hamil Abian dulu, aku mulai membacakannya buku sejak dalam kandungan. Harapanku sama seperti yang dituliskan mbak Puza dalam bukunya, ingin menabung sebanyak mungkin memori baik kepada Abian bahwa kami pernah itu membaca buku bersama dengan bahagia :)

Buku ini juga kembali mengingatkanku, bahwa tujuan membaca nyaring ini memang bukan untuk menggagas anak agar segera bisa membaca. Membaca simbol-simbol berupa huruf dan rangkaian kata. Tetapi untuk memupuk kecintaannya kepada buku, kepada membaca, kepada memahami suatu makna bacaan dan lebih jauh lagi mencintai sumber ilmu. Aamiin. Jika, alhamdulillahnya ada bonus berupa Abian yang kurasa cukup ceriwis (sebab kata ustadzahnya di sekolah dia sangat suka bercerita), berarti pemerolehan kosakatanya cukup banyak, dan semogo itu bonus dari dibacakan nyaring olehku selama ini. Perkara mengajarkannya membaca dan mengenal huruf, insyaallah pasti kuusahakan juga dong tentunya, tapi kembali lagi, tidak mau terburu dan mengiri pada pencapaian anak lain sebayanya yang mungkin udah bisa baca koran mueheheheh, peace :)

cara ajaib menutrisi otak anak
Reminder banget, sampe rela kustabilo hihi


Hal yang Kurang

Oleh karena kutau membuat sebuah karya itu tidaklah mudah, siapalah aku yang bisa memberi nilai kurang pada karya yang dikerjakan sepenuh hati ini? hehe

Bagiku, buku ini sangat pas porsinya seperti yang telah kusebutkan diatas. Tidak kurang tidak lebih, karena kalau mau ditambah lagi halamannya, kayak waw, lumayan padet dan tebel yaa yang harus dimamam mamak-mamak yg pikirannya suka bercabang ini wkwk

Porsinya passs. Pas di hati, pas di harga, pas juga ilustrrasi sampul gemoynya, layout tulisannya pun, terbitan Bentang mah ga diragukan lagi. Nyaman dan enak dibaca, ga terlalu kekecilan ataupun kebesaran. Bisa kok dibaca-baca sembari menunggu waktu menjemput anak sekolah ataupun sore-sore sambil nyeruput gudeyfrizz :D

Terakhir kusampaikan terimakasih pada mbak Puza karena sudah menuliskan buku ini, semoga berkah dan jadi amal jariyah yaa mbak :) 

Hooiyaa, btw aku tidak jualan yaa mantemin hehehe. Jika temen-temen tertarik ingin membaca buku ini, boleh kok kalau mau pinjem ke akuu asal amanah ajaa. Temen-temen juga bisa beli bukunya di toko buku terdekat, Gramedia insyaallah juga sudah ada. Kebetulan kemarin aku beli sewaktu pra pesan  lewat mizanstore.com, dapet diskon doong, plus bisa ikutan kelas zoom.

Dah yaa gitu aja, mohon maaf kalau tulisan panjang ini membosankan atau ngalur ngidul heheheeh
Sedang belajar menulis resensi buku ceritanya :)



See you on my next blog (kalau ada)

Loooooph sekebon <3

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Search This Blog

Matrikulasi

Powered by Blogger.