Akhirnya bisa meluangkan waktu untuk nulis tantangan hari ke-3.
Kali ini belajar dengan menggunakan spidol. Abian akhir-akhir ini sedang tertarik dengan alat tulis, meskipun memang masih belum sempurna memegang pensil/ spidol.
Kadang kami main bebas dengan spidol. Namun, kali ini kebetulan bunda sudah menyiapkan buku wipe & clean tentang huruf abjad. Jadilah membaca sambil "oret-oret".
Apakah berhasil? Tentu tydac semudah itu hehehe. Abian awalnya tertarik mengikuti arahan bunda, namun sepertinya ia belum sepenuhnya tertarik untuk mempelajari huruf. Yawes ndakpapa, yang penting dia masih mau buka-buka buku dan tentu saja oret-oret!
Sampai hari ini ia masih menagih untuk "belajar" nulis sendiri katanya. Untuk tahap awal, tentu bunda harus ekstra jagain supaya dia ga oret-oret di sembarang tempat.
Begitulah proses belajar dengan bahan seadanya di rumah. Jujur saja, proses main belajar Abian sekarang sedang mandeg karena proses kepindahan rumah kami yang tak kunjung usai.
Alhamdulillah, jurnal hari kedua ngebut dibikin sepagian ini, mumpung Abian lagi main sepeda.
Hari kedua lalu, kami yang masih berada di rumah bapak memutuskan untuk bermain dengan pensil. Awalnya, Abian kutunjukkan sebuah buku yang ada permainan menemukan jalannya. Namun, pensil yang dipunya saat itu belum diserut. Kukatakan padanya untuk membawa pensil tsb ke rumah bapak dan meminjam rautan khola agar pensil itu bisa digunakan.
Namun sayangnya, buku yg terdapat permainan menelusuri jalan tidak dibawa serta. Walhasil, bunda harus putar otak agar bisa tetap bermain sambil menstimulasi Abian belajar memegang pensil. Akhirnya, bunda menemukan sebuah undangan yang ada denah di dalamnya. Disulaplah bekas undangan tsb untuk kami bermain.
Beginilah jadinya. Abian bermain bersama khola menemukan jalan bersama deh. Selain itu, ketika denah sudah dicoret-coret, ia akhirnya meminta dibuatkan denah baru dengan tokoh yang ia pilih bersama khola.
Demikian proses main dan belajar Abian. Semoga semangatnya belajar masih terus terjaga. Diawali dengan belajar memegang pensil terlebih dahulu untuk menguatkan otot jari-jarinya. Konon, stimulasi dengan pensil ini bagus sebagai dasar kelak saat ia di tahap belajar menulis.
Alhamdulillah, memasuki zona #4 meski telat setor, gwenchana.
Berikut catetan jurnalnya dulu deh yaa...
Sebenernya udah nyatet di hari pertama yaitu tgl 26 November kemarin, namun apalah daya, paketan data habis gaiz. Yasudahlah, gapapa deh rapelan, yang penting proses tetap berjalan. Insyaallah...
Jadi, di hari itu, aku dan Abian pergi ke rumah bapak (kungnya Abian). Sudah dijanjikan oleh Bapak bahwa sepeda milik adek bungsuku yg udah ga dipake akan dihibahkan kepada Abian. Sebabnya, Abian rusuh minta sepeda yang ada pancalnya. Padahal sebenernya dia udah punya sepeda keseimbangan (balance bike), namun karena teman mainnya disini punya sepeda pancal, walhasil seperti anak kecil pada umumnya dia pun pingin punya juga. Untungnya sewaktu memutuskan beli BB dulu, aku memang sudah ancang-ancang kalau nanti Abian kurang cocok sama BB atau pingin punya sepeda pancal atau sudah bisa keseimbangan. Begitulah cerita behind the scene nya. Panjang bener.
Back to Tantangan Zona #4
Awalnya aku bingung harus bagaimana, namun ternyata setelah memahami dan membaca lagi materi, Alhamdulillah tercerahkan. Jadi zona ini lebih kepada proses berjalannya aja, melihat setiap proses belajar anak. Mungkin nanti kedepan memang perlu rencana yang lebih matang sih terkait stimulasi kreatifnya.
Baiklah, karena dia sedang tertarik-tertariknya dengan sepeda maka kuputuskan untuk setoran proses belajar ini saja dulu.
Diawali dengan perbincangan dan permintaan Abian. Ia memilih warna merah untuk sepeda yang akan menjadi miliknya. Ternyata ini termasuk proses kreatif untuk mengembangkan imajinasinya terhadap suatu benda.
Nah, sesampainya kami di rumah bapak. Proses perbaikan sudah hampir selesai ternyata. Sepeda sudah dipasang roda tambahan dan sudah diberi warna merah. Tentu saja, Abian sangat excited. Dia berulang kali bersorak senang.
Proses perbaikan berlanjut dengan Abian yang serius mengamati, memegangi sepeda dengan dalih "membantu" bapak, hingga loncat-loncat girang tak ketinggalan.
Perbaikan selesai, berganti dengan belajar mengayuh sepeda barunya. Namun, Abian belum mahir mengayuh sepeda 360°. Dia hanya mengayuh setengah saja, sepertinya ia masih berhati-hati sekali. Tidak mengapa, yang penting prosesnya.
Alhamdulillah, sejatinya proses belajar akan terjadi sepanjang napas berhembus. Terlebih Abian yang masih 3 tahun, insyaallah prosesnya semoga selalu menyenangkan dan membuatnya bersemangat.
Perasaan yang muncul saat ini adalah: tidak menyangka. Rasanya bangga dan puas terhadap diri sendiri bahwa ternyata 15 hari bisa terlewati dengan 'sadar'. Meski mungkin masih banyak yang perlu di remidi, revisi disana-sini. Tak mengapa, namanya juga latihan kan.
Awalnya merasa haa, yakin ini 15 hari bisa setiap hari setor? daaan, amazingnya justru malah menikmati setiap harinya, setiap jurnalnya. Setiap pagi terbangun, selalu menantikan hal-hal ajaib apa yang bisa dituliskan. Meskipun yaa terkadang ada yang isinya "gitu" doang, saking perasaannya hari itu lagi ga karuan. But, then, Alhamdulillah dengan ijinNya, bisa tuntas juga ternyata :)
Suatu kebanggan bisa terlibat bersama ribuan sobatualang, yang mungkin tidak sempat kulihat dan kubaca satu-persatu, karena mau fokus kepada proses bertumbuhnya diri sendiri dan keluarga. Namun, semangatnya tetep nyampe kok, lewat diskusi-diskusi dari kakawi, teman-teman pondok mutiara laut, maupun support yang sangat berarti dari teman-teman bunsay seregional SidoMojo.
Sekali lagi, bukan karena mampuku, tapi tekadku untuk mau berubah yang membuatku, waah ternyata aku oke juga nih. Lalu, perasaan itu menyebar ke seluruh sel tubuh. Menghangatkan hati.
Di zona pertama ini, kurasa benar-benar jadi tantangan terberat bagiku. Aku yang (mungkin) tumbuh dengan membawa innerchild, sehingga lebih nyaman berkomunikasi lewat tulisan. Seringnya, tulisan-tulisan ini tidak pernah sampai kepada suami, karena dia bukan tipe pembaca. wkwk. Ya jelaslah ga nyampe.
Setelah belajar 15 hari ini, jadi makin ringan harapan kedepan untuk terus belajar agar komunikasiku dengan suami (terutama) dan anak jadi kian baik, dekat dan hangat. Ada konflik yang akhirnya terselesaikan, meski berurai air mata. Ada ego yang harus direm, agar pesan yang kuingin sampaikan dapat diterima.
Aku sadar ini bukan akhir perjalanan karena tantangan masih akan terus berlanjut sepanjang napas masih ada. Namun, kalau boleh mengenangnya aku ingin memberi temuan di zona komunikasi produktif ini dengan warna Jingga, sebuah warna yang mewakili hatiku saat ini. Jingga sehangat senja.
Membesarkan anak yang bisa membaca, mungkin akan mudah. Namun membersamainya menumbuhkan cinta untuk membaca, itu perlu usaha yang tidak semudah memberikannya tontonan dari layar gawai.
Suatu ketika saat aku belum hamil,
aku sengaja mendaftarkan diri menjadi reseller salah satu penerbit buku
lokal. Penasaran dan memang sangat tertarik dengan
dunia literasi, membawaku pada kesimpulan bahwa aku harus ikut andil dalam
memajukan literasi anak Indonesia. Sebab setahuku saat itu, tingkat baca
anak-anak bahkan orang dewasa di Indonesia tidak tergolong tinggi. Bisa
dibilang jauh dari standar. Bayangkan, dari66,05 juta jiwa anak berusia 0-14 tahun, hanya berapa persen yang doyan
baca buku. Ditambah lagi dengan akses internet yang makin was wus saat ini, dan
sayangnya hal itu tidak dibarengi dengan bertambah tingginya minat baca. Yang
artinya literasi tetap saja rendah meski jaman sudah berkembang sedemikian
rupa. Kebayang ngerinya PR generasi muda kita nantinya, kalau untuk sekadar
memahami sesuatu dengan membaca saja kurang.
Oleh karena itu, sejak tahu hamil aku semakin giat memantapkan diri berkecimpung dan berusaha mengenalkan anak kepada
buku. Tujuanku sederhana aja sih, minimal anakku dan lingkungan sekitarku bisa
mencintai buku dan mencintai bacaan. Agar ketika ia besar nanti ia bisa membaca
dengan pemahaman yang baik. Bukan hanya sekedar membaca huruf dan kata tanpa
makna. Tetapi lebih jauh dari itu, agar ia dapat mengambil hal baik dari yang
ia baca. Petualangan pun dimulai, dari mulai berburu buku diskonan,
menjelajah para bakul buku yang bisa memberikan harga reseller, hingga
saat ini terbantukan sekali dengan bertemu dengan Let’s Read! Apa itu Let’s
Read. Wait, sabar sebentar. Aku akan menjelaskannya panjang kali lebar nanti. Tetapi
sebelum itu, ijinkan aku berbagi pengalaman selama mengenalkan dan mendekatkan
anakku dengan dunia literasi, khususnya buku.
Membacakan
Buku sejak dalam Kandungan
Percaya tak percaya, aku saat itu
sudah dengan yakinnya berusaha membacakan anakku buku, meskipun ia masih di
dalam kandungan. Mungkin bagi sebagian orang kala itu, hal ini dipandang aneh.
Ngapain sih, bacain perut buku? Tapi, aku percaya bahwa membacakan buku sejak
dalam kandungan itu baik. Bukankah salah satu indera yang telah matang sejak
dalam kandungan adalah indera pendengaran? Yap, menurut info yang kubaca dari
berbagai laman maupun para doktergram yang ku-follow sih seperti itu. Pun
juga, stimulasi pendengaran dengan musik kan dianjurkan juga sejak dalam
kandungan. Lantas apa salahnya dengan membacakan buku? Justru sangat bermanfaat
ya kan. Iya aja udah. Aku percaya hal itu baik, maka kulakukan.
Setiap hari pasti kusempatkan untuk membacakan buku. Aku membacakan
banyak hal, mulai dari kisah dalam kitab suci, buku-buku anak yang kubeli dari
hasil berjualan buku, bahkan juga membacakan apa saja yang berada di dekatku
kala itu. Rasanya kalau sehari tidak membacakan buku kepadanya seperti ada yang
kurang. Hal ini rutin kulakukan hingga menjelang persalinan. Sembari kadang
mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja yang terlintas. Sambil mengajak serta adik bungsuku yang
saat itu masih berusia 4 tahunan.
Membacakan
Buku sejak Hari-hari Awal Kelahiran Saat anakku lahir, berselang dua hari saat kami pulang dari Rumah Sakit,
aku kembali mengenalkannya dengan buku. Buku high contrast saat itu
kupilih sebagai awalan. Menurut penelitian memang bayi baru lahir sebaiknya
distimulus dengan warna-warna yang kontras seperti hitam, putih dan juga merah.
Benar saja, Abian saat itu kurasa jadi semakin cepat jelas penglihatannya. Respon
yang ia berikan pun mungkin bisa dibilang cukup baik dari kacamataku. Saat itu
pun komentar kembali melayang dari para netijen budiman. Hihihi. Memang
tak akan lengkap rasanya hidup kalau belum dapat komentar-komentar dari
kanan-kiri. Banyak yang nanya, ‘itu bayi umur segitu emang udah paham dibacain
buku gitu?’. Aku sih woles aja menanggapinya, kuanggap saja bahwa mereka
mungkin memang belum tahu ilmunya. Hehe. Jadi yaa aku dengan senang hati
menjelaskan setidaknya satu saja alasan masuk akal kenapa aku ‘harus’ banget
bacain buku buat anakku. Iya, satu saja jangan banyak-banyak. Bayi baru
lahir akan sangat baik jika distimulasi penglihatannya dengan buku high
contrast.(titik)
Tak sekedar membacakan, kami juga melagukannya. Lalu respon yang dia berikan adalah mengikuti arah buku, bahkan ikut "bersenandung" ala bayi gitu. Kusimpan di dalam salah satu postingan instagramku kala itu disini https://www.instagram.com/p/BaQJtobAOk7/?igshid=u55ubg8vqsty .
Sekali Ia
Jatuh Cinta, Maka Siapkan Suara Emas Anda Buibu!
Perjalanan membacakan buku
berlanjut hingga kini ia berusia hampir 3 tahun. Meski yaa memang sangat
mungkin ada rasa ‘malas’ justru datang dari emaknya ini. Yaa, gimana ya.
Ternyata perjuanganku tidaklah sia-sia menumbuhkan budaya membaca untuk anak sejak dalam kandungan.
Terbukti dengan dia yang hampir setiap hari, pagi siang malam selalu nagih
jatah baca buku. Tak tanggung, satu buku mana cukup. Minimal 1 bukunya dibaca
3x, belum lagi judul lain. Sampai serak suara emak naak. Hihihi. Hal itulah
yang jadi sebab kenapa emak ini agak-agak menolak kadang. Huh, harusnya gaboleh
gitu ya.
Alhamdulillahnya lagi, di usianya yang memasuki 3 tahun ini, Alhamdulillah perolehan kosakatanya cukup banyak. Bicaranya sudah tidak pelat (istilah Jawa untuk cadel). Aku cukup yakin bahwa ini adalah salah satu hasil baik dari budaya membaca buku yang kami lakukan hampir setiap hari. Bahkan mungkin ia tergolong anak yang cerewet hihihi. Alhamdulillah, sesuai dengan nama yang kusematkan padanya, Abian yang berkorelasi dengan bahasa Arab (bayaan) yang berarti jelas dan terang! Kadang ia bercerita ini itu, kadang mengarang cerita dari sebuah buku yang sering dibacanya. Kalau sudah begitu dia akan bilang, "ayah/ bunda dengerin Abian mau cerita. Suatu hari....". Begitulah kepolosannya yang manis, membuatku malu kadang jika tidak mau membacakannya buku.
Pelatihan Membaca Nyaring (Budering) bersama Ibu Roosie dan Pemanfaatan Pustaka Digital
Beruntungnya, Desember lalu sebelum badai COVID19 menyapa, aku
dipertemukan dengan Ibu Roosie melalui pelatihan Read Aloud. Bersyukur sekali
berkesempatan hadir di acara ini. Akupun jadi semakin kagum dengan manfaat dari
membacakan buku. Tak hanya untuk merangsang kecerdasan tentu saja, tetapi juga
banyak sekali manfaat yang bisa kita dapat dari membacakan buku. Nah, di
kesempatan itu pulalah aku jadi kenal dengan aplikasi ter-uwaaw lah pokoknya.
Apa ituu? Lanjut yaa…
Let’s Read
and Let’s See the World
Pelatihan Read
Aloud bersama Ibu Roosie saat itu akhirnya mengenalkanku pada aplikasi Let’s Read(http://bit.ly/webletsread).
Sebuah aplikasi yang dirancang untuk memudahkan para orang tua millennial yang
mungkin kurang waktu untuk datang ke toko buku dan memilah-milah buku yang baik
untuk dibacakan kepada anak. Iya, kita sebut saja dengan perpustakaan digital. Tapi ini kheusus buku cerita bergambar untuk anak! Yeaaay, kemana saja diriku ini, hari gini baru
kenal Let’s Read?
Di Let’s Read buanyak sekali
cerita-cerita dan kisah insipiratif untuk dibacakan ke anak. Buku-buku digital yang disajikan pun memiliki ilustrasi yang bagus. Cara mengasesnya juga cukup mudah. Menurutku sih sangat user friendly banget. Kamu belum tahu ada aplikasi keren ini? Cuss, segera meluncurlah untuk download dulu. Let's Read tersedia di playstore (https://bit.ly/downloadLR2).
Video Review Aplikasi Let's Read dan Cara Menggunakannya
Keren kali kan! Aku pun tidak pusing-pusing lagi kalau anak sedang bosan sama buku fisik yang kita koleksi (yang memang jumlahnya belumlah banyak), tinggal buka aplikasi ciamik andalan sepanjang masa Let’s Read http://bit.ly/webletsreadand then we dive in. Seringkali saat bepergian pun, daripada kebayang riwehnya harus membawa-bawa buku, Let's Read sangat membantu juga. Sesekali membaca online juga bolehlah, karena semua serba digital, buku digital ini bisa jadi salah satu solusi. Aku paham bahwa buku digital tidaklah bisa menggantikan peran buku fisik, namun jika kondisi tidak memungkinkan, buku digital pun jadi! Oleh karenanya, seperti buku pada umumnya aku juga seringkali menyortir terlebih dulu kira-kira cerita yang akan aku bacakan seperti apa. Termasuk di Let's Read, aku biasanya menyiapkan terlebih dahulu dengan cara mendownload buku, agar ketika kami butuh 'bacaan online' kami tidak benar-benar online, tetapi sudah tersedia meski kondisi offline.
Senengnya lagi, di Let’s Read ini ada berbagai pilihan bahasa, mulai dari Bahasa Indonesia, Inggris hingga beberapa bahasa daerah.Selain itu, buku cerita anak versi cetak dengan bahasa daerah ini sepertinya juga belumlah banyak di pasaran. Jadi, Lets's Read sangat membantu untuk mengenalkan Abian dengan bahasa daerah maupun bahasa asing. Jujur saja, aku sengaja berbicara dengan Bahasa Indonesia untuk mengobrol sehari-hari bersama Abian. Aku menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya dengan pertimbangan bahwa kami tinggal di Jawa Timur, yang mana akses berbahasa Jawa akan lebih mudah masuk ke dia. Tetapi sayangnya dan yang kutakutkan adalah Bahasa Jawa yang nanti diperolehnya justru Bahasa Jawa yang sudah campuran dan terkesan ‘kasar’. Maklum kami tinggalnya kan di Sidoarjo, yaa saudaraan sama Bahasa Suroboyan yang terkenal agak saru di kalangan masyarakat.Oleh karenanya, sebisa mungkin aku ingin mulai mengenalkannya dengan bahasa Jawa yang agak halus (atau biasa dikenal dengan bahasa krama).
Video Read Aloud Bahasa Jawa dengan Aplikasi Let's Read
Nah, hadirnya Let’s Read ini juga sekaligus membantu para orang tua yang memangberasal ataupun menetap di Jawa, yang ingin mengenalkan Bahasa Jawa tetapi disesuaikan denganvalueyang ingin ditanamkan. Super duper membantu dan memudahkan sekali lah pokoknya. Selain Bahasa Jawa, ada juga Bahasa daerah lainnya, seperti Bahasa Sunda, Minangkabau dan lain-lain. Semoga saja kedepannya akan ada Bahasa-bahasa daerah lainnya juga, seperti Bahasa Madura mungkin. Bahasa asing pun ada loh, dari mulai Bahasa Inggris, Korea, India dan masih banyak lagi. Bisa sekalian belajar juga kan ortunya. Seperti aku yang kadang juga sedikit-sedikit mulai mengenalkan bahasa Inggris kepada Abian. Sekalian deh mengasah keluwesan vocabulary yang lama tidak terpakai.
Video Read Aloud bahasa Inggris dengan Aplikasi Let's Read
Masih panjang cerita
petualanganku bersama Abian, kuharap Let’s Read makin banyak menelurkan karya
dan semakin banyak pula para orang tua yang sadar pentingnya mengenalkan
Literasi sejak dini kepada anak-anak mereka. Dengan begitu, kuharap peringkat
Indonesia dalam hal membaca berangsur naik dengan progress yang kian baik tiap
harinya. Aku ingin menjadi bagian dari para pejuang itu. Pun yang terpenting
juga adalah, semoga anakku menikmati setiap petualangannya bersama ratusan,
ribuan bahkan jutaan cerita yang akan kita baca bersama. Yeayy. Kami siap
berpetualang! Kamu juga kan!!!
Let’s Read and See
the World!
Berikut kenang-kenangan yang sempat kuabadikan di medsos pribadiku.
Sebab telah mau berlelah belajar dan terus belajar.
Sebab tak menyerah bahkan di detik-detik akhir penghabisan.
Sebab masih menguat-bulatkan tekad untuk mau berubah.
Sebab meski terseok, kamu tetap tak berhenti.
Hari ini mungkin akan menjadi salah satu hari yang patut kamu syukuri.
Maka nikmat Allah yang manakah yang bisa kamu dustakan?
Namun seperti perjalanan lainnya, anggap saja ini bukanlah tujuan akhirmu.
It's not a Happy Ending, but the beginning of new journey.
Hari yang luar biasa, meski dengan mata kriyip-kriyip, akhirnya 15 Hari insyaallah tertuntas melalui postingan ini :) Haruu, maasyaallah. Ternyata begini rasanya yaa :)
Semoga 15 hari 15 hari selanjutnya akan berjalan dengan sesemangat ini.
Sungguh masih ga percaya aja rasanya bisa berada disini sekarang :(
Hari ini, setelah kemarin "gelud" dengan suami karena suatu salah perhitungan dan akibat mengabaikan poin penting kompro, akhirnya setelah seharian kemarin rasanya tak karuan Alhamdulillah berakhir segar. Kenapa segar? Abis minum es buah rumput laut soalnya. ehehehe
Aku jadi teringat pas pertama mau mulai ini, dengan menitik beratkan target kompro bersama suami. Aku menganggap ini bagian tersulitnya, bahkan aku sempat cerita ke my super madam. Lalu madam bilang, itulah seninya, kalau nggak gitu kan kayak datar aja lempeng-lempeng aja. Lah kok terrnyata yaa dikabulkan beneran, beuraaat banget bahkan di detik-detik akhir :) Allah bersama prasangka hambaNya itu truee. Maka rencanaku untuk selanjutnya, aku tidak ingin berdoa meskipun mbatin, jangan sampai aku mbatin bakalan berat, karena nantinya bisa jadi makin berat hehehe.
Masalah beres. Alhamdulillah. Well done An!
So, besok-besok jangan sampai lalai lagi dengan poin "komprod" yang sudah dipelajari dan dipraktikkan selama 15 hari ini. Mungkin besok-besok tidak akan kamu catat sebegininya, namun para malaikat tetap bertugas menjurnal tiap hari bahkan tiap detiknya. Anakmu masih akan terus mencatat dan menerima dalam memori masa kecilnya. Suamimu akan terus menerus memperhatikan langkahmu demi keridloannya. Oke, sampai sini paham kan An?
Alhamdulillah, mendekati detik-detik akhir tantangan 15 Hari yang sungguh Amaazing luar biasa Allahu Akbar. Yang mana, sungguh aku berangkat dengan tanpa ekspektasi ataupun harapan yang terlalu tinggi, bahkan mungkin cenderung yang insekyur gitu. Mengingat, masalah komunikasi ini adalah PR besar bagiku, bukan kompro dengan anak kicil melainkan dengan orang dewasa yang sudah 4 tahun ini harus kulihat hampir 24/ 7. Maasyallah, beneran doong, tantangan demi tantangan yang sesungguhnya kusudah sangat hapal, namun masih saja harus revisi berrrkali-kali. Soalan memahami gaya bahasa dia, memahami cara berpikir dia, memahami cara berbicara dengan dia yang dekat tapi berasanya juauh. Alhamdulillah, di hari ke-13 ini, kok yaa nemu satu hikmah yang bisa kutuangkan disini...
Yakni, tentang legowo. Inti dari komunikasi produktif sesungguhnya adalah maksud kita tersampaikan bukan? Sesuatu yang selama ini sulit sekali aku praktikkan. Kita bicara yang benar-benar bicara dari hati ke hati itu sebenernya bisa dihitung jari. Kalau ada masalah besar yang sampai meledak dulu, baru bicara. Ya gitu-gitu itu. Itupun jarang menghasilkan sesuatu yang aku mau, itu diterima dengan baik olehnya. Memang harapannya adalah maksud kita tersampaikan, namun perihal eksekusi darinya, yaa itu kembali lagi ke dianya. dan aku akhirnya, dengan sadar memilih bentuk responku dengan cukup baik dan matang. Tanpa ego dan emosi berlebihan di dalamnya. Alhamdulillah aku merasa cukup.
Untuk semua kerelaanku menerima, aku akan memberi apresiasi yang cukup tinggi. Namun aku masih harus banyak belajar lagi.. Mungkin benar, kekuatan doa itu tidak boleh diremehkan. Sekecil apapun terbersit di batin, itu pun doa. Jadi aku akan berusaha untuk memutus rantai ketidakpuasanku terhadap hasil pembicaraan. Kalaupun diterima dan dilakukan, Alhamdulillah banget. Kalau tidak yaa sudah, gapapa. Allah berarti masih mengujiku untuk terus naik tingkat level kesabaran dan ketulusannya.
Makin kesini kok berasa makin diuji, maasyallah luwaar biasa :)
Jadi, memang sudah 3 hari aku sama Abian pulkam ke rumah bapak (di desa sebelah aja kok), suami lagi ke Jogja ceritanya.
Eh, berasanya disini kok Abian ini makin-makin yaaa. Hahahaha. Kayak semua yang kuucapkan itu mendal gitu loh. Kayak lebih cepet tantrumnya, lebih banyak maunya, agak lebih susah ngomonginnya. Baiklaaah, saat-saat seperti ini harusnya praktik kompro jadi lebih menantang.
Bener ajaa, banyak kejadian-kejadian deh. Mulai dari main kompor, memecahkan gelas, menolaq mandi, menolaq tidur siang dan (malam) yang biasanya jam 8 di rumah sendiri udah mapan, ini bisa sampai jam 22.00.
Amaziiing deh ya. Tapi Alhamdulillah kesemuanya bisa terlewati tanpa teriakan, kalo (sebel) sih masih wkwkwk.
Alhamdulillaaaah.. 11 hari terlalui juga, dengan niat memperbaiki diri dan hubungan dengan keluarga, kok yaa rasanya cepet banget ya. hiiihi
So, this is my Curhat. Mohon maap dari kemaren isi blog ini tulisannya cimit-cimit, hemat batre nih soalnya lagi pulkam (ke desa sebelah) ke rumah bapak.
Ceritanya lagi LDR-an sama suamik.. eeh, kok malah Alhamdulillahnya, merasa komunikasi malah lancar yaa. Kalau dia di dekatkuu, kok malah piye gitu. wkwkwk
Hai. Salam kenal, aku Ana Farah. Boleh dipanggil bundana atau Ana.
Selamat datang di Cerita Bundana. Ini jurnal bertumbuh dan belajarku. Aku seorang ibu dan masih terus belajar menjadi manusia yang makin baik tiap harinya. Terkadang aku menulis untuk menghibur diri, menjeda dari lelah hari pun juga melarikan diri sejenak dari dunia per'emak'an.