-->

In Bunsay

Menyelami Diri - Game Wahana Diving

Mengenal diri terlebih dahulu untuk kemudian mampu mengenal anak dan pasangan dengan lebih baik.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hai, sobat ambyar pembelajarku? 
Alhamdulillah, masih diberi umur oleh Pemilik Putaran Waktu, sehingga bisa kubisa mengikuti Tour terakhir dari Wisata Ceria sebelum menyebrang ke Pulau Cahaya Bunsay. Kali ini kami diajak menyelam ke dasar laut. 
Yeaaay.... diving!


Kami diajak untuk kembali memeriksa diri, seberapa kenalkah kita dengan diri? Lalu akupun berhari-hari ngobrol dengan diri sendiri hingga larut malam bahkan dini hari. Eh, ternyata aku sudah melangkah sejauh ini ya. Kalau dulu mungkin saat pertama kali menyandang status istri dan ibu, masih banyak kagok dan terbata-bata membaca situasi. Masak alakadar, ilmu parenting masih cetek, dan lain sebagainya. Namun, aku bersyukur pernah ada di fase itu dan aku "mau" untuk maju :)

Oleh karena tidak tahu (atau belum tahu) apa saja yang kubutuhkan, kumasuki lah tiap-tiap grup ibu-ibu. Join komunitas sana-sini. Hingga terjadilah tsunami informasi kepada diriku yang lemah ini. huhuhu


Naah, setelah bertemu Ibu Profesional mulailah nih belajar tentang memilah dan memilih. Belajar untuk mencukupkan diri. Untuk tidakmenelan bulat-bulat informasi. Untuk makin mengenal dan banyak mengobrol dengan diri sendiri dulu baru berkomunikasi dengan suami dan anak. Alhamdulillahnya, yang luar biasa adalah support system belajar bersama itu nyata! 

Misalnya aku dulu sering kerepotan dengan pikiran sendiri ketika ingin memposting sesuatu di sosial media, entah saking sisi ke-introvert-anku sedang tinggi-tingginya atau bahkan insecure terhadap diri sendiri. Lambat laun, ada teman-teman komunitas yang mempercayaiku. Maka berkembanglah aku dengan dukungan yang sangat tulus tersebut. Aaah, maasyaallah betapa Allah Maha baiknya. 

Berkumpul dengan orang-orang yang sevisi-setujuan-seirama seperti ini adalah rizki tak terhingga. Itulah sebabnya, ketika tahun lalu ada pembukaan pengurus baru maka segeralah saja nekat daftar. Meskipun baru seumur jagung berada di IIP. Itu caraku supaya tidak mager lalu lupa diri lalu puter arah lagi. Alhamdulillah, suami menyetujui dan berangkatlah aku bersama rombongan ibu-ibu hebat. 

Kini, aku jadi makin semangat mencari dan terus menyelami diri. Sembari terus meminta padaNya agar memberi hint padaku tentang misi spesifik penciptaanku. Insyaallah, dengan tidak berputus asa dari rahmatNya, aku semakin berusaha untuk percaya diri dan mengubah "buruk dan kurangku" menjadi terbaikku. 


Seperti pertarungan di bagian manapun dan di sejarah manapun di dunia ini, yang tidaklah semudah menjetikkan jemari, pertarunganku pun insyaallah masih sangat panjang dan mungkin tak mudah. Masih banyak hal yang harus kupelajari, kutingkatkan, kuamalkan dan kuresapi. Semoga diri ini terus semangat dan tidak mudah goyah lalu mutung di tengah jalan. 

Bismillaaaah... menjadi "Ibu Profesional Kebanggan Keluarga"adalah rangkuman citaku untuk mencapai kemuliaan di hadapNya. 




Terima kasih.. untuk semua hal yang telah membawaku pada detik ini.
Terima kasih, Ibu Profesional telah menjadi tempat belajar dan bertumbuhku.
Terima kasih, teman-teman yang entah tak terhitung darimana saja datangnya, 
yang Masyaallah sungguh luar biasa kerennya bersama-sama memulai perjalanan ini. 

Yok, semangat yok. 
Insyaallah... happy ending untuk seluruh Ibu (wannabe) Profesional

<3

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Bunsay

Wahana Wake Boarding Pra Bunsay

Menetapkan Peta Perjalanan Pencarian Ilmu. Sebab melangkah tanpa tahu arah, mungkin bisa tersesat dan tak tahu jalan pulang.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
Halohai, jumpa lagi disini :) 


Alhamdulillah, memasuki Wahana baru yang tak kalah seru dari dua wahana sebelumnya. Wahana kali ini masih seputar bermain dengan ombak, Wake Boarding. Huwaw, baru pertama kali aku mendengar istilah ini hihihihi. Ternyata seru juga yaa, menantang puoool. Dengan ditemani oleh dua GuideTour seru lagi yaitu mb Farida dan mb Ressy, kami mulai memacu diri ke tengah ombak dan belajar lagi untuk mengenali diri dengan berpegang pada karakter moral dan core value. Wahana kali ini seperti membawa diri flashback ke jaman Matrikulasi lalu, dimana dulu kami diajak untuk memilih dan memilah jurusan yang akan diambil di Universitas Kehidupan.

Nah, kali ini kami diarahkan untuk memeriksa kembali peta perjalanan kami. Barangkali ada yang terlewat satu belokan atau malah kejauhan sehingga harus putar balik?


Berikut adalah peta yang kuperiksa dan perlu kutinjau selalu agar tak salah jalur dan tersesat hihihi
Kala itu, sepertinya daku ini masih banyak maunya sehingga bingung memutuskan ilmu apa saja yang benar-benar "perlu" untuk dipelajari. Kupikir ya tidak masalah selama itu berguna dan menguntungkan. Ternyata eh ternyata, hal seperti itu tidak berfaedah yaa. Bener sih dapat ilmu, tapi kalau kebanyakan ternyata membikin mual dan akhirnya ilmu yang dikunyah belum sempat tertelan terpaksa harus dimuntahkan. Alias membal, alias percuma, alias kurang berguna. Jadi, sekarang kusudah insaf gais. Harus dan wajib hukumnya untuk benar-benar memilah dan memilih hal apa saja yang benar-benar dibutuhkan oleh diri. Baik sebagai peningkatan kapasitas diri, penunjang peran sebagai ibu maupun istri. Mengutip tour guide kemaren, "interesting sih, tapi i'm not interested". Bener ga tuh? Bener aja dah lah.
Intinya kudu berani untuk tidak mengambil suatu hal meskipun kelihatannya sangat menarik. Karena yang menarik belum tentu berguna buat kamyuh.


Nah, oleh karena itu Ilmu yang ingin kutingkatkan dan kulatih agar semakin mantap ialah:

1. Ilmu Parenting. Sengaja ditempatkan pada peringkat pertama agar selalu ingat untuk meningkatkan kapasitas di bidang ilmu parenting. Mendidik anak itu bukan perkara mudah, oleh sebab itu ilmu parenting yang cocok masih harus selalu dicari dan dicari hingga nanti menemukan yang berhasil dan cocok untuk keluargaku. Sebab mendidik anak harus mendidik diri terlebih dulu. Kemudian ada satu ilmu parenting yang sangat ingin kupelajari lebih dalam, yaitu Fitrah Based Education. Semoga ada jalan yang  baik untuk mendekati sumber ilmu ini. Aaamiin.

2. Manajemen Waktu. Perkara satu ini emang masih perluuu revisi berulang kali. Butuh konsistensi yang tinggi dan kesungguhan untuk disiplin pada kandang waktu yang dibuat. Namun balik lagi, teori tak seindah praktek pada lapangan. halah. alasan!
Maka dari itu, prioritas kedua jatuh pada manajemen waktu!!! Ilmu yang harus terus dilatih dilatih dan dilatih agar semua berjalan dengan semestinya. 

3. Komunikasi Produktif. Sebenarnya ini selevel dengan Manajemen Waktu sih. Pasalnya gaya komunikasiku sepertinya masih jauh dari kata produktif. Bagaimana tidak, duduk barang semenit dengan si dia saja sudah mulai ngegas. Benar-benar butuh ditingkatkan banget banget. Alhamdulillahnya, denger-denger dari kakak tingkat nanti di Bunsay bakalan ada materi tentang ini. Waaah senangnya diriku. Pasti duduk paling depan. Semoga Allah mudahkan menghadiri majlis ilmunya nanti. aamiiin.

4. Menempati urutan ketiga, yaitu Bahasa Arab, Read Aloud dan Dongeng. Bahasa Arab kutuliskan karena merasa memiliki kewajiban membagikan ilmu yang sudah kupelajari dan menghasilkan gelar S.Pd. Kesannya malu aja gitu, sudah empat tahun bersusah belajar, tapi seperti tidak diamalkan. Read aloud dan dongeng, menjadi salah satu hal yang bisa kubanggakan di depan anakku. Sebab dengan bercerita dan membacakannya cerita, kami bisa memasuki dunia lain yang menyenangkan. Kami bisa belajar namun bermain hihihihi.


Nah, kalau ilmu yang saat ini kuprioritaskan untuk kupelajari yaitu: Menulis, Manajemen Emosi + Selfcare dan juga Edusociopreneur.

Menulis menjadi prioritas karena aku ingin mengabadikan tulisan dan untuk mengikat ilmu yang telah kudapat. Terlebih, sejak punya anak rasanya aku jadi punya cita-cita baru, yaitu menuliskannya sebuah cerita. Ingin sekali rasanya mempunyai hasil karya yang bisa dibaca oleh anak cucu. Terlebih juga bisa dibaca oleh orang lain juga. Bismillaaaah...

Manajemen Emosi dan Selfcare menjadi salah satu ilmu yang benar-benar kubutuhkan agar menjalani hari-hari tidak penuh sesak dengan kurangnya kontrol emosi. Soalnya merasa diri ini masih suuusaah sekali memanaje emosi :(

Terakhir, ingin belajar tentang edusociopreneur. Bikin istilah sendiri hihihi. Intinya ingin mempelajari entrepeneur yang tak sekadar berbisnis, tetapi bisnis yang bisa membawa dampak kebaikan di bidang pendidikan dan sosial. 



Nah, yang selanjutnya ini yang beraaaat, tapi bukan rindu :D
Membagikan ilmu yang telah dipelajari. Tantangannya adalah merasa diri ini tidak ada apa-apanya. Merasa diri ini terlampau kecil, sehingga sepertinya tak ada yang bisa dibagi. Padahal mah berbagi ya berbagi aja, tanpa mengharap apapun, karena berbagi itu peduli. Jadiii yasudah bismillah saja, setidaknya aku "agak" PD dengan tiga hal ini: read aloud, bahasa dan parenting (yang sudah kujalani meskipun ya jauh banget dari kata sempurna).




Waaah, alhamdulillaah.. akhirnya sampai juga di tepian. Matahari kian terik, saatnya 'mentas' dari ombak lautan. 
See you on the next Wahana :) 
Masih syemangaaaaaat menuju wahana terakhir di paket wisata kali ini.

Salam Ibu (wannabe) Profesional
LOveeeee .

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Bunsay

Berselancar diatas Ombak Komunitas

Bismillah.... 


Hai.. hai... Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Game Wahana kedua di Paket Wisata Ceria bersama Bunda Sayang kali ini seruu sekali. Seru sekaligus memacu adrenalin. Kami dibawa untuk mendekat ke pusaran ombak yang bergulung. Namun, karena aku terlalu lama berteduh di bawah pohon sambil menikmati es degan (kelapa muda), aku jadi agak terlambat menikmati wahana ini. 

Hmmm, dasar aku! Terlalu menikmati wahana pertama kemarin kali ya. Padahal wahana ini ga kalah seru, seru banget malahan. hihihi
Wahana berselancar ini dipandu oleh duo ramah kreyes kriuk yaitu Bune Yani dan Biyung Ratna, jauh-jauh dari Jogja beliau berdua datangnya loh. Pembahasannya seruu, membuat diri ini tersentil di pojokan. wkwk. Jadilah aku menyusul, membawa papan seluncurku sendiri menuju Ombak yang bergulung. Apakah aku bisa? Let's see.



Baiklah, setahun sudah lamanya mendapat materi tentang COC. Sewaktu dulu diskusi ini, kayak yang yaudah oke. Awalnya, hah, apa inih? Komunitas ini niyat sekali. Seniat itu, sampai ada panduan COC yang mendetail seperti itu. Aku yang seorang Ibu Rumah Tangga biasa ini pun baru mendengar istilah ini. COC? Code of Conduct? Makanan apa lagi ini ya Rabb :(

Ternyata, oh ternyata.. Kode Etik toh bahasa Indonesianya. Nah ini aku baru agak ngeuh. 
Mengutip dari panduan COC terbaru. Definisi COC adalah sebagai berikut:



Setelah paham definisi COC itu apa, baru sadar pentingnya ada kode etik dalam berkomunitas. Tidak hanya perusahaan besar maupun institusi yang harus memiliki COC ini, komunitas Ibu-ibu pun perlu bahkan wajib ada. Sesimpel, jika tak ada aturan atau panduan untuk menjaga jati diri komunitas dan membernya yaa bisa jadi IIP tak akan bertahan sedemikian dan sebesar sekarang ini. Member IP terus bertambah dan isinya beragam pula. Member yang berasal dari berbagai macam suku, daerah, pekerjaan, latar belakang berhimpun dalam satu barisan pembelajar di Institut Ibu Profesional. 

Didalam panduan COC pun dijelaskan apa sih urgentnya memiliki kode etik sebagai kesepakatan bersama. Berikut rangkumannya:




Nah, dari grafis yang kukutip dari COC IIP tersebut, sudah sangat jelas gambaran dari funsgi dan tujuan dibuatnya Code of Conduct ini. Saat di Matrikulasi dulu memang sepertinya aku agak sleeping beauty apa gimana gitu. Ketika dulu berdisusi mungkin belum benar-benar mendalami, jadi seperti ada yang terlewat. Ya Allah, ampunilah. Yang menjadi peganganku kini, aku mau berusaha lebih keras hadir di kelas dengan kesadaran dan membuat prioritas agar belajar disini tidak malah menjadi penghalang tugas utama di rumah. Justru sebaliknya, mengatur waktu dan membuat diri hadir di setiap kelas sebaik mungkin tanpa mengorbankan kewajiban. Sebab menghadiri kelas tepat waktu juga merupakan adab seorang penuntut ilmu. 




Jadi, jika boleh kutinjau dan evaluasi diri setelah setahun lamanya menjadi bagian dari pembelajar di IIP maka ada hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, namun masih harus kuperbaiki. Diantara hal yang kurang baik tersebut adalah: 

1. Silent Reader, sebenarnya ketika perubahan kelas yang tadinya di WAGrup dan kini harus hijrah ke FBG membuatku harus beradaptasi lagi. Aku termasuk yang lebih nyaman untuk membaca materi dibandingkan dengan menonton video. Jadi, mungkin memang harus lebih beradaptasi lagi. Namun, hingga kini masih selalu berusaha agar tidak menyiakan kesempatan belajar ini. 


2. Tidak membicarakan politik dan kritik pemerintah di tengah grup atau kelas. Kalau perkara ini sih sudah sejak lama kutinggalkan, karena yaa bukan kapasitasku. Sebagaimana Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu" (HR. Al-Bukhari). Bukannya bersikap apatis, namun tidak semua tempat cocok untuk membahas satu hal. Apalagi di dalam komunitas yang menaungi ibu untuk belajar.


3. Tidak berbicara SARAT (Suku, Agama, Ras, Anggota Tubuh). Alhamdulillah juga sudah lama meninggalkan hal ini. Namun bersyukur masih selalu diingatkan disini. 

4. Tidak asal membagikan info. Berusaha mengurangi dan lebih berhati-hati dalam memfilter apapun itu. Apalagi di masa-masa seperti ini, dimana arus informasi sangat mudah tersebar. 

5. Tidak ghibah dan fitnah. Naudzubillah mindzalik. Sudah jelas hal ini pun dilarang dalam Islam. Jadi, yaa jangan sampai 20.000 kata terbuang sia-sia hanya untuk membicarakan hal yang tidak berguna. Udahlah tidak berguna, dapat dosa lagi. Double kill :(

6. Berusaha tidak menjadikan komunitas untuk menunggangi kepentingan lain. Naudzubillah juga ini, jangan sampai niat belajar tercoreng dengan "niat-niat tersembunyi" seperti ada udang di balik batu.

7. Tidak sok tahu dan menggampangkan. Sedang sangat berusaha untuk tidak melakukan hal kurang beradab ini. Bahkan tergolong perbuatan nista (jika merujuk pada COC IIP). Terkadang ketika belajar, ada materi dengan judul serupa misalnya, mungkin timbul sedikit rasa sok tahu dan menggampangkan. Menganggap sudah pernah, sudah bisa dan sudah sudah lainnya. Padahal ilmu tanpa dibarengi adab terlebih dahulu, apakah berkah? Sayangnya tidak! Sayangnya bersikap sok sok-an ini tergolong tidak beradab. Jadi, insyaallah kuakan berusaha sebaik mungkin untuk selalu memegang teguh prinsip bahwa aku belum bisa, belum tahu dan siap mengosongkan gelas tiap kali ada kelas dengan materi baru ataupun materi yang sudah didapat sebelumnya.

Jadi begitulah, petuangalan seruku kali ini. Aku mungkin sempat tergulung ombak, jatuh lagi, berusaha seimbang diatas papan seluncur lagi, begitu seterusnya hingga menelan air laut yang asin itu. Tapi tak mengapa, semua itu proses pembelajaran, proses penguatan diri agar dapat berdiri tegak dan imbang. Bukan untuk menelan air laut lebih banyak lagi lalu tenggelam, tetapi untuk bangkit dan semakin kuat. 

Baiklah, rasanya badan sudah pegal-pegal seharian berselancar dengan ombak tinggi menggulung-gulung ini. Saatnya ke tepian, membasuh tubuh dengan air tawar. Serta membasuh tenggorakan dengan yang segar-segar. Yaps, kucukupkan petualanganku kali ini, menyiapkan energiku untuk menikmati wahana seru lainnya di depan sana. Yeaaay, tak sabar rasanya. 
Eh, mana teman-temanku tadi yaa? Waduh, aku takut ketinggalan rombongan.. Pamit dulu yaaaaa.. Sampai jumpa lagi....

Salam Ibu (wanna be) Profesional

Wassalamu'alaikum waramatullahi wabarakatuh. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Bunsay

Membangun Istana Pasir

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo, welkambek to my blog yang kian usang. 

Alhamdulillah, setelah setahun lamanya tak bersua akhirnya ada alasan untuk mengisi kembali blog ini. Kali ini kuingin bercerita tentang perjalanan yang baru saja akan dimulai.
Perjalanan ke Pulau Cahaya.

Waah, bayanganku lalu melaju jauh ke pantai berpasir nan indah. Harap maklum, masih di masa pandemik seperti ini memang rasa ingin piknik sangat kuat, namun apadaya. Jadilah, ikut rombongan piknik Bunda Sayang ke Pulau Cahaya saja, maasyaallah. 

Jadi sebelum menyebrang ke Pulau Cahaya, kami diajak untuk bermain di Paket Wisata Ceria. Wahana yang pertama kami kunjungi ialah, Wahana Istana Pasir bersama dengan dua Guide Tour cantik, yakni mbak Rima dan mbak Farda. Disana kami diajak berbincang seru mengenai Critical Thinking dan juga Makna Ibu Profesional, sambil menikmati semilir angin pantai dan suara deburan ombak (dibayanginnya gitu aja biar senang hihi). 

Setelahnya, kami diberi tantangan untuk membuat sebuah Istana Pasir versi terbaik masing-masing. Berbekal sekop dan ember yang kami persiapkan, kami mulai menyusun satu demi satu bagian istana milik kami.

Beginilah bentuk istana pasir versiku.


Aku ingin membangun sebuah istana pasir yang kokoh. Puncak menaranya adalah Islam sebagai jalan hidup. Benteng penjaga utamanya adalah keluarga kecil kami, suamiku dan anakku. Aku tahu, istana pasirku ini mungkin tidak benar-benar sekuat itu, maka dengan sabar aku akan membangunnya perlahan. Berbekal doa dan ikhtiar yang kulangitkan, maka aku akan berusaha membuat istana pasir kami tetap tegak berdiri. Bilapun suatu saat terpaksa tersapu ombak hingga runtuh misalnya, maka aku akan membangunnya lagi dengan keyakinan bahwa istana ini akan dijaga oleh Sang Maha Penjaga. Tugasku hanyalah membangun dan menjaganya sebisaku, wujud akhirnya kuserahkan pada Sang Maha saja. 

Selanjutnya bagaimana aku melihat dan berusaha membangun istana pasirku sendiri, adalah sebagai berikut:

Aku adalah seorang individu yang memiliki cita-cita dan harapan bagi diriku sendiri, maka aku akan berusaha mewujudkannya. Tentunya dengan doa dan ikhtiar paling maksimal lagi. Selain itu, aku juga ingin menjadi teman setia dari suamiku, yang tak hanya sekadar jadi pelengkap rumah tangga, namun juga sebagai tim yang solid. Bersama dengannya aku ingin membangun istana pasir kami, aku akan dengan senang hati membawa bahan-bahannya, sedangkan ia akan bertugas mengawal pembangunannya sendiri agar sesuai dengan yang kami inginkan. Adapun sebagai seorang ibu, aku ingin menjadi teman bermain yang asyik bagi anakku. Bukan sebagai guru maupun seorang yang bisanya hanya "mengatur-atur" anak. Perkara mengatur, sudah ada Allah yang Maha Mengatur segalanya. Oleh karena itu, maka tugasku akan kucukupkan sebagai teman dan fasilitatornya. Semoga aku bisa amanah.

Untuk menjagaku tetap fokus pada track yang telah kupilih maka aku akan membutuhkan peta sebagai berikut:


Kuakan berusaha agar selalu semangat dalam belajar. Hasil belajar tentu tidak akan berguna jika tidak diamalkan bukan? Maka cara agar ilmu berbuah manis, aku akan berubah. Bukan merubah diri ataupun tujuan, namun merubah sikap dan tindakan yang kurang baik menjadi usaha menuju kebaikan. Berlanjut dengan membuat karya, apa saja yang kubisa. Membuat sebuah buku mungkin? Bismillah, doakan :)
Hasil akhirnya berbahagia? Kurasa bahagia bukan hasil melainkan bonus dari kesungguhan. Bahagia itu kata kerja yang harus dilakukan. Oleh karenanya kesemua lingkar peta ini akan kugunakan berulang dan berkesinambungan, agar hidupku menjadi semakin bermakna. 

Oh iya, sebab itu pulalah aku akan dengan senang hati mengikuti perkuliahan di kelas Bunsay. Agar kisah para Ibu Profesional lainnya bisa menjadi lecutan semangat bagiku. Bukan, bukan untuk mengcopy-paste, tapi sebagai motivasi dan energi positif bagiku. 

It's a Long-LongLife Journey, that's why I will always be brave learner.



Aku akan terus belajar dan berjalan. Aku ingin mengukir sejarahku sendiri. Sejarah yang akan membuat seluruh hidupku di dunia, ketika di hari Kesaksian nanti menjadi tidak sia-sia. 

Aku ingin menjadi Ibu Profesional, Kebanggan Keluarga. Bagiku, menjadi Ibu Profesional berarti mau dan bersungguh menjalankan amanah peran dengan sebaik mungkin. Menemukan Ana yang utuh, yang mengerti makna dan tujuan hidupnya untuk apa, siapa dan bagaimana. Lalu memberdayakan diri agar selalu mau berubah kearah yang lebih baik. Mensyukuri masa lalu yang mengantarkannya pada masa sekarang. Memacu diri agar menjadi diri yang bukan sekadar ada, namun keberadaannya membawa makna. Hadir secara utuh, penuh dan sadar dalam keluarga. Hingga nantinya menjadi pribadi yang lebih baik sebagai individu, istri, ibu serta bagian dari masyarakat. 



Begitulah, cerita perjalananku kali ini. Semoga membawa hikmah. Pun semoga, yang kutuliskan disini akan menjadi sebuah tulisan yang tak hanya sekadar dipajang, namun berulang disambangi dan dibaca agar ketika lelah menyapa aku bisa kembali ke jalan yang benar. hihihihi

Bismillah, perjalanan masih panjaaaang.. 
Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya. 

Salam Ibu (wannabe) Profesional
Hubb <3 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Foundie-Matrikulasi

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

NHW#4

Bismillah…
Pekan keempat berada di Matrikulasi IP semakin membuat saya mencari lebih jauh tentang hakikat diri saya sendiri. NHW kali ini adalah review sekaligus pemantapan dari NHW seblumnya. Saya sadar bahwa teori tanpa praktek akan menjadi sia-sia, ilmu tanpa amal hanya akan membuat ilmu itu keruh bahkan menghilang. Setelah belajar dan memahami pentingnya mendidik anak dengan kekuatan fitrah, saya akan kembali mencoba melayakkan diri dimulai dari langkah kecil, hari ini.

  1. MEMANTAPKAN JURUSAN ILMU DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN
    Setelah mengerjakan NHW#1 saya benar-benar berusaha setiap harinya untuk mengingat dan mendalami jurusan ilmu yang saya pilih, yaitu: Ilmu Rumah Tangga. Sampai saat ini saya masih yakin bahwa ilmu tersebut tidaklah ada yang lebih penting darinya. Saya yakin bahwa keluarga adalah struktur organisasi terkecil yang justru perannya adalah yang terpenting dalam setiap aspek. Untuk membuat satu peradaban yang gemilang perlu keluarga yang baik, lingkungan yang baik kemudian Negara dan seterusnya. Apalagi di akhir zaman yang penuh dengan ketidakpastian ini, saya meyakini bahwa perlu benteng kokoh yang berasal dari dalam rumah agar generasi penerus saya menjadi anak yang dapat ikut serta membangun peradaban bukan malah sebaliknya.
    Jadi jika ditanya apakah saya akan mengubah jurusan ilmu yang akan saya pilih? Tentu saja tidak. Bahkan saya merasa sangat perlu untuk mempelajari dan membuat detail secara mendalam agar ilmu yang saya pelajari benar-benar dapat saya amalkan dalam kehidupan rumah tangga saya. Saya mantap dengan memilih jurusan Ilmu Rumah Tangga berdasarkan asas Islam. Saya menambahkan spesifikasi Islami sebagai pilar saya mempelajari Ilmu ini, karena saya seorang muslimah yang tentu tidak ingin jika kehidupan yang sementara ini berorientasi hanya pada dunia.

B. KONSISTEN MENGISI CHECKLIST HARIAN SEBAGAI SARANA MEMANTASKAN DIRI
    Sejujurnya, begitu NHW#2 usai saya masih tertinggal dan belum bisa sepenuhnya mengisi dan menjalani sebagian besar yang sudah saya tuliskan. Saya akan lebih konsisten mengisi checklist dan membuat timetable sederhana dengan bantuan aplikasi smartphone. Seperti yang saya pahami bahwa ilmu tanpa amal akan menjadi sia-sia. Saya tidak ingin menjadikan NHW yang saya kerjakan sekadar mengerjakan saja tanpa diamalkan. Bismillah.. semoga dengan langkah kecil yang saya buat  ini, Allah akan membimbing dan memantaskan diri saya menjadi Ibu Profesional kebanggan keluarga.

C. MISI SPESIFIK, BIDANG DAN PERAN DALAM HIDUP
    Setelah merenungi diri tentang misi penciptaan saya sebagai individu, anak perempuan, serta kini istri dan ibu, saya memilih ingin dikenal sebagai role model ibu muda tangguh masa kini yang tidak hanya berbekal materi tapi ‘berpendidikan tinggi’ untuk mendidik anak sesuai fitrah keimanan ketuhanan. Selain itu, karena saya adalah sarjana pendidikan bahasa Arab, saya juga ingin mengenalkan dan membuat anak cinta akan bahasa agamanya. Oleh  karena itu saya berkeyakinan untuk memilih misi hidup sebagai berikut.
    Misi Hidup : “Menjadi Role Model Ibu Muda Muslimah & Penebar Cinta Bahasa Arab sebagai bagian dari agama Islam”
    Bidang        : Pendidikan Keluarga Islami
    Peran        : Pembelajar – Inspirator – Pendidik - Kreator

D. ILMU-ILMU UNTUK MENJALANKAN MISI HIDUP
    Setelah mencoba meyakinkan diri menetapkan misi hidup, langkah selanjutnya adalah menyusun kurikulum pembelajaran mandiri untuk diri sendiri. Ilmu-ilmu yang saya butuhkan untuk mencapai misi hidup saya adalah sebagai berikut.
  1. Ilmu al-Qur’an dan Hadits berkaitan dengan rumah tangga
  2. Ilmu Mendidik berdasarkan Fitrah
  3. Ilmu Bunda Sayang IP
  4. Ilmu Bunda Cekatan IP
  5. Ilmu Bunda Produktif IP
  6. Ilmu Bunda Shalihah IP
  7. Ilmu Manajemen (Emosi, Keuangan, Komunikasi)
  8. Ilmu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris
  9. Ilmu tentang Metode Monstessori
  10. Ilmu tentang Read a Loud (mendongeng)

E. MENETAPKAN MILESTONE PEMANDU PERJALANAN
    Saya sangat sepakat dengan adanya milestone sebagai acuan untuk memandu perjalanan untuk mencapai misi hidup. Ibu Profesional mengajarkan satu hal lagi kepada saya bahwa apapun yang kita buat jika tidak dilakukan dengan konsisten, terukur dan diberi batasan akan menjadi bias. Akan mudah bagi kita untuk mengukur capaian apa saja yang kita lewati dengan mencatat dan membuat perencanaan terlebih dahulu. Seperti anak bayi yang selalu dicatat perkembangan dan pertumbuhannya setiap bulan, seperti seorang guru yang menyiapkan langkah pembelajaran kemudian menyerahkan rapor sebagai evaluasi. IP memberikan saya pencerahan untuk terus berbenah.
    Untuk membuat milestone ini saya menetapkan KM 0 saya dimulai pada tanggal 1 Maret 2019. Saya akan mengalokasikan waktu untuk belajar selama 10 jam (7 jam bersama Abian, 1 jam mengikuti perkuliahan IP, 1 jam belajar mandiri, 1 jam untuk menulis), dengan demikian komitmen mencapai 10.000 jam terbang akan terwujud kurang dari 3 tahun. Namun karena ada sistem pembelajaran IP yang harus saya ikuti, saya akan mempelajari 4 tahapan ilmu sesuai dengan kurikulum Ibu Profesional selama 4 tahun. Lima ilmu lain yang telah saya sebutkan sebelumnya akan saya pelajari secara mandiri dengan mencari referensi dan sumber terpercaya lainnya. Jadi, saya mengambil kesimpulan setidaknya dalam 6 tahun saya InsyaaAllaah telah menguasai ilmu-ilmu yang telah saya tetapkan dan ingin pelajari untuk menjalankan misi hidup dengan baik. Bismillah.. berikut adalah detail milestone yang akan saya jalani mulai dari KM0.
Milestone
Keterangan
Waktu Tempuh
Sumber Belajar
KM 0 – KM 1
Mempelajari dan mengamalkan ilmu terkait rumah tangga dari al-Qur’an dan Hadist
6 bulan
Tafsir al-Qur’an dan hadist.
Guru terpercaya.
Mendalami dan menerapkan ilmu manajemen agar dapat mengelola emosi, keuangan keluarga, dan komunikasi dengan baik
6 bulan
Media sosial.
Sharing dengan ahli.
Buku Manajemen terkait.
Diskusi dengan pasangan.
KM 1 – KM 2
Mendalami dan mempraktekkan ilmu mendidik anak berdasarkan fitrah
9 bulan
Buku Fitrah Based Education.
Sharing dengan ahli.
Mempelajari ilmu dasar Montessori sebagai tambahan aktivitas anak disesuaikan dengan fitrah dan aspek islami
3 bulan
Buku Montessori.
Sosial Media.
Sharing dengan Ibu Montessorian.
KM 2 – KM 3
Mempelajari, mendalami dan mengamalkan imu Bunda Sayang melalui IP
1 tahun
Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
Buku penunjang.
KM 3 – KM 4
Mempelajari, mendalami dan mengamalkan imu Bunda Cekatan melalui IP
1 tahun
Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
Buku penunjang.
KM 4 – KM 5
Mempelajari, mendalami dan mengamalkan imu Bunda Produktif melalui IP
1 tahun
Kelas Bunda Produktif Institut Ibu Profesional.
Buku penunjang.
KM 5 – KM 6
Mempelajari, mendalami dan mengamalkan imu Bunda Shalihah melalui IP
1 tahun
Kelas Bunda Shalihah Institut Ibu Profesional.
Buku penunjang.
Mempelajari dan mempraktekkan lmu tentang Read a Loud (mendongeng
Sosial Media.
Sharing dengan ahli.
Mendalami ilmu pendidikan bahasa Arab dan bahasa Inggris (sebagai tambahan bidang ilmu yg sudah saya pelajari)
Buku.


F. KOREKSI CHECKLIST PADA NHW #2
SEBAGAI INDIVIDU
Keterangan
Day 1
Day 2
Day 3
Day 4
Day 5
Day 6
Day 7
MENJAGA AMALAN HARIAN
Sholat di awal waktu 5x sehari
Sunnah Rawatib (minim. 2x)
Membaca al-Qur'an setelah Maghrib minim 1 hal.
Sunnah Tahajjud minim. 3x seminggu
Perbanyak Istghfar, Dzikr dan Do'a di pagi hari
MENJAGA KESEHATAN
Jalan sehat minim 1x seminggu (Ahad)
Senam Yoga 1x sebulan
UPGRADE DIRI
Membaca Buku 1 hari 1 bab pukul 21.00
Mengikuti kelas IP tiap pukul 19.00 kecuali hari Kamis dan Ahad
Menjalankan Gadget Time, free gadget 30 menit sebelum dan setelah bangun tidur. Free Gadget saat bermain dengan Abian pukul 13.00-16.00
Segera menuntaskan pekerjaan domestik sebelum pukul 10.00
Menulis (jurnal harian, NHW, refleksi) pukul 17.00 setiap hari
SEBAGAI ISTRI
PELAYANAN KEPADA SUAMI
Taat
Tidak Ngedumel
Memasak mulai pukul 05.00-07.00
Marah dengan elegan
Menjaga komunikasi yang baik (couple time mijnim. 30 menit tiap malam)
Menjaga penampilan di depan suami, mandi pagi sebelum pukul 07.00
IKHTIAR MENDUKUNG SUAMI MENJEMPUT RIZKI
Sholat Dhuha tiap pagi, minim 2 rakaat
SEBAGAI IBU
PENDIDIK ANAK YANG BAIK
Menjalankan Kurikulum yang telah dibuat, satu hari 1x undangan bermain dan 1x freeplay
Sabar
MENJAGA KESEHATAN ANAK
Rutin datang ke posyandu, sebulan sekali tiap pekan ketiga
Menyediakan makanan bergizi. Jadwal makan Abian (makan besar, snack time dll)

G. LANGKAH TERAKHIR SEKALIGUS TERPENTING
    Dengan menyebut asma Allah saya akan memulai perjalanan panjang nan tak mudah ini dengan satu langkah kecil. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberi hidayahNya. Let’s just do, do it, do it, and do it all over again till the destination, RidhaaAllah wal Jannah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Search This Blog

Matrikulasi

Powered by Blogger.